Pencarian

Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat yang Kaya dan Memukau: 7 Warisan Leluhur yang Masih Hidup Hingga Kini

Rabu, 15 Juli 2026 • 15:07:01 WIB
Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat yang Kaya dan Memukau: 7 Warisan Leluhur yang Masih Hidup Hingga Kini
Masjid Jami Pontianak, salah satu masjid tertua di Kalimantan, menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya dengan arsitektur perpaduan Jawa, Eropa, dan Tionghoa.

Pontianak, kota yang namanya lahir dari legenda hantu kuntilanak, berdiri di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di sinilah Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang ulama dan bangsawan, mendirikan Kesultanan Kadriyah pada 1771. Jejak sejarah itu tidak sekadar cerita—ia terpahat di dinding Masjid Jami, istana, dan makam-makam tua yang masih diziarahi hingga hari ini.

Kalimantan Barat menyimpan lapisan budaya yang tidak linear. Ada tiga arus besar yang membentuknya: tradisi Dayak yang berbasis pada hukum adat dan alam, pengaruh Melayu Islam yang datang melalui jalur perdagangan, serta diaspora Tionghoa yang telah menetap sejak abad ke-18. Ketiganya tidak saling meniadakan, melainkan bernegosiasi dalam ruang sosial yang sama. Berikut tujuh warisan yang menjadi bukti perpaduan itu.

1. Istana Kadriyah: Pusat Sejarah Kesultanan Pontianak

Terletak di Kelurahan Dalam Bugis, tepat di tepi Sungai Kapuas, Istana Kadriyah adalah kediaman resmi sultan-sultan Pontianak. Bangunan panggung kayu ini memadukan arsitektur Melayu, Eropa, dan Tionghoa—terlihat dari ukiran naga di tiang-tiangnya serta jendela kaca patri bergaya Belanda. Di halaman belakang, makam sultan pertama hingga keempat masih terawat dan sering diziarahi, terutama menjelang Ramadan.

Pengunjung bisa melihat koleksi keramik, senjata tradisional, dan naskah kuno di museum kecil di dalam kompleks. Tidak ada tarif resmi yang pasti; pengunjung biasanya memberikan sumbangan sukarela. Waktu terbaik datang adalah pagi hari, antara pukul 08.00 hingga 11.00, saat udara masih sejuk dan aktivitas di pelataran istana belum ramai.

2. Masjid Jami Pontianak: Simbol Akulturasi dan Ketahanan

Masjid yang berdiri sejak 1778 ini adalah salah satu masjid tertua di Kalimantan. Arsitekturnya unik: atap tumpang tiga bergaya Jawa, menara berbentuk mercusuar, dan mihrab berukir kaligrafi khas Tiongkok. Masjid ini dibangun oleh Syarif Abdurrahman bersama komunitas Tionghoa dan Bugis yang saat itu menjadi mitra dagang Kesultanan.

Hingga kini, Masjid Jami menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya. Setiap malam Jumat, pembacaan Maulid Habsyi bergema dari pengeras suara, diikuti oleh warga dari berbagai latar belakang. Lokasinya di Jalan Masjid Jami, tidak jauh dari Pelabuhan Kapuas, membuatnya mudah diakses dengan kendaraan roda dua atau ojek.

3. Tugu Khatulistiwa: Penanda Garis Imajiner Dunia

Tugu ini berdiri di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, tepat di garis lintang 0 derajat. Dibangun pada 1928 oleh ahli geografi Belanda, tugu ini menjadi satu dari sedikit monumen khatulistiwa di dunia yang bisa dikunjungi langsung. Setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September, fenomena kulminasi terjadi: bayangan benda hilang karena matahari tepat berada di atas kepala.

Di sekitar tugu terdapat taman dan museum mini yang memajang dokumentasi fenomena tersebut. Lokasi ini ramai dikunjungi wisatawan lokal saat libur sekolah. Tidak ada biaya masuk yang baku; pengelola biasanya meminta donasi untuk perawatan. Datang sebelum pukul 10.00 untuk menghindari antrean foto yang panjang.

4. Tari Jonggan: Tarian Perayaan dari Suku Dayak Kanayatn

Tari Jonggan berasal dari Kabupaten Landak dan Mempawah. Berbeda dengan tarian Dayak lain yang sakral, Jonggan adalah tarian pergaulan—ditarikan berpasangan antara pria dan wanita, diiringi musik dari gong dan sape'. Gerakannya dinamis, kadang improvisatif, mencerminkan kegembiraan saat panen atau penyambutan tamu.

Saat ini, Tari Jonggan masih diajarkan di sanggar-sanggar seni di Pontianak dan Ngabang. Pemerintah daerah menetapkannya sebagai warisan budaya takbenda pada 2015. Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan pertunjukan langsung saat Festival Budaya Kapuas yang digelar setiap Juni.

5. Rumah Betang: Arsitektur Kolektif Suku Dayak

Rumah betang adalah rumah panggung panjang yang bisa dihuni puluhan hingga ratusan keluarga. Satu rumah betang bisa mencapai panjang 150 meter, dengan ruang bersama di tengah dan bilik-bilik pribadi di sisi kiri-kanan. Struktur ini bukan sekadar hunian—ia adalah sistem sosial. Keputusan adat diambil dalam musyawarah di ruang bersama, dan sanksi adat dijatuhkan di tempat yang sama.

Salah satu rumah betang yang masih aktif dihuni berada di Desa Sahapm, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Di sini, pengunjung bisa menginap dan belajar langsung tentang sistem kekerabatan Dayak. Tidak ada tarif menginap yang pasti; biasanya pengunjung membawa oleh-oleh berupa sembako sebagai tanda terima kasih.

6. Tradisi Naik Dango: Syukuran Pasca Panen Suku Dayak

Naik Dango adalah ritual adat suku Dayak Kanayatn yang digelar setelah musim panen padi. Selama tiga hari tiga malam, masyarakat berkumpul di rumah betang untuk menumbuk padi, membuat ketupat, dan menyajikan sesaji kepada Jubata (Tuhan Yang Maha Esa dalam kepercayaan asli Dayak). Puncak acara adalah arak-arakan hasil panen dan tari-tarian massal.

Tradisi ini masih dijalankan secara konsisten di Kecamatan Air Besar, Landak. Wisatawan dipersilakan hadir, tetapi diminta mengikuti aturan adat: tidak berkata kasar, tidak memakai pakaian terbuka, dan tidak mengambil foto tanpa izin. Jadwal pastinya bergantung pada panen, biasanya antara April hingga Juni.

7. Makam Batu Layang: Pusat Ziarah Lintas Agama

Di Jalan Batu Layang, Pontianak, terdapat kompleks makam tua yang dihormati oleh Muslim dan Tionghoa. Makam utama adalah milik Syarif Abdurrahman dan keluarganya, tetapi di sekitarnya juga terdapat makam leluhur Tionghoa yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Setiap tahun, saat Cap Go Meh, komunitas Tionghoa menggelar sembahyang di sini, sementara umat Islam membaca Yasin pada malam Jumat.

Fenomena ini jarang ditemukan di daerah lain: satu lokasi pemakaman digunakan oleh dua komunitas berbeda tanpa konflik. Pengunjung yang datang untuk berziarah disarankan membawa air untuk menyiram makam dan tidak meninggalkan sampah. Tidak ada biaya atau jam buka resmi; makam bisa diakses kapan saja, tetapi paling ramai pada Kamis malam dan Minggu pagi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bahasa yang digunakan sehari-hari di Kalimantan Barat?
Mayoritas warga menggunakan Bahasa Melayu Pontianak sebagai lingua franca, dengan logat yang khas—lebih cepat dan vokal 'e' diucapkan seperti 'e' pada kata 'enak'. Bahasa Dayak dan Tiochiu juga masih aktif digunakan di komunitas masing-masing.

Apakah aman bepergian ke daerah pedalaman Dayak sendirian?
Aman, asalkan mengikuti aturan adat setempat. Jangan memasuki hutan larangan (pulung) tanpa pemandu, dan selalu minta izin kepada tetua adat sebelum mengambil foto atau merekam. Masyarakat Dayak terkenal ramah terhadap tamu yang menghormati tradisi mereka.

Kapan waktu terbaik mengunjungi Kalimantan Barat?
Mei hingga September adalah musim kemarau, sehingga akses jalan ke pedalaman lebih baik. Hindari Januari-Februari karena curah hujan tinggi dan sungai bisa meluap. Untuk menyaksikan festival budaya, targetkan Juni (Festival Kapuas) atau Agustus (peringatan HUT Kota Pontianak).

Apakah ada syarat khusus untuk masuk ke Istana Kadriyah?
Tidak ada syarat khusus, tetapi pengunjung diharapkan berpakaian sopan (tidak memakai celana pendek atau tank top). Sepatu harus dilepas sebelum masuk ke bangunan utama. Fotografi diperbolehkan di area luar, tetapi dilarang di ruang museum tertentu.

Bagaimana cara terbaik berkeliling Pontianak?
Transportasi umum utama adalah ojek dan angkot. Untuk perjalanan ke luar kota, bus dan travel tersedia di Terminal Batu Layang. Jika ingin fleksibel, sewa motor harian bisa ditemukan di sekitar pusat kota dengan harga bervariasi—pastikan cek kondisi kendaraan dan bawa SIM asli.

Kekayaan Kalimantan Barat tidak bisa direduksi menjadi sekadar daftar tempat wisata. Ia adalah laboratorium hidup tentang bagaimana tiga kebudayaan besar bisa saling mengisi tanpa kehilangan identitas masing-masing. Dari arsitektur rumah betang hingga semerbak dupa di Makam Batu Layang, setiap sudut provinsi ini menyimpan cerita yang masih terus ditulis oleh warganya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks