PONTIANAK — Analisis dan prospek cuaca BMKG Kalimantan Barat memperbarui peringatan potensi karhutla yang perlu diwaspadai pada sebagian wilayah Kalbar. Potensi kemudahan terjadinya kebakaran lahan dan hutan itu berlangsung mulai 27 September hingga 1 Oktober 2026, lalu kembali muncul pada 3 Oktober 2026.
Peringatan disampaikan bukan tanpa alasan. Kondisi cuaca kering di sejumlah titik membuat lahan mudah terbakar, sehingga aktivitas yang memicu api perlu dihindari warga, terutama di daerah rawan karhutla.
Wilayah Rawan dan Periode Puncak Karhutla
BMKG Kalbar mencatat potensi karhutla tidak merata di seluruh provinsi. Sebagian wilayah masuk kategori mudah terbakar pada rentang 27 September hingga 1 Oktober 2026, sementara 3 Oktober 2026 juga perlu diwaspadai.
Warga yang tinggal di kawasan rawan diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas lain yang berpotensi memicu percikan api juga sebaiknya dihindari selama periode tersebut.
Hujan Sedang Tetap Berpotensi di Sebagian Wilayah
Di sisi lain, BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang tetap berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Barat. Potensi hujan sedang itu berlangsung pada periode 27 September hingga 3 Oktober 2026.
Artinya, kondisi cuaca di Kalbar tidak seragam. Sebagian wilayah berisiko karhutla, sebagian lain justru berpotensi diguyur hujan sedang.
Imbauan BMKG untuk Warga Rawan Karhutla
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan karhutla, untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG. Langkah itu sebagai antisipasi terhadap perubahan kondisi cuaca di wilayah Kalimantan Barat.
Informasi Cuaca Kalbar Bisa Diakses di Laman Resmi BMKG
Informasi lengkap mengenai analisis dan prospek cuaca Kalimantan Barat dapat diakses melalui laman resmi BMKG Kalimantan Barat di kalbar.bmkg.go.id.
Warga yang hendak beraktivitas di luar ruangan, terutama di kawasan rawan karhutla, disarankan mengecek pembaruan cuaca lebih dulu. Peringatan dini BMKG menjadi acuan utama menghadapi perubahan kondisi cuaca sepekan ke depan.