Pencarian

7 Objek Wisata Sejarah di Kalimantan Barat yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi

Senin, 13 Juli 2026 • 19:08:31 WIB
7 Objek Wisata Sejarah di Kalimantan Barat yang Penuh Cerita dan Wajib Dikunjungi
Pengunjung mengamati koleksi keramik dan pusaka di dalam Istana Kadriah, pusat Kesultanan Pontianak yang berdiri sejak 1771. Kompleks Makam Batu Layang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan Syarif Abdurrahman dan keluarganya dengan nisan berukir k

Pontianak dan sekitarnya bukan hanya soal kuliner dan sungai. Di sudut-sudut kota dan pedalaman, tersimpan bangunan, monumen, dan kompleks makam yang menjadi sak bisu perjalanan panjang peradaban Kalbar. Bagi yang penasaran dengan masa lalu, tujuh tempat ini layak masuk daftar kunjungan.

1. Istana Kadriah: Pusat Kesultanan Pontianak

Kompleks istana ini berdiri di tepi Sungai Kapuas, tepatnya di Kelurahan Dalam Bugis. Dibangun pada 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kota Pontianak. Arsitekturnya memadukan gaya Melayu, Eropa, dan Arab — terlihat dari pilar-pilar tinggi dan jendela besar bercat kuning.

Di dalamnya tersimpan koleksi keramik, senjata pusaka, dan singgasana sultan. Pengunjung bisa berjalan kaki dari Masjid Jami' yang letaknya bersebelahan. Waktu terbaik berkunjung pagi hari agar cuaca tidak terlalu panas. Tidak ada tarif resmi yang dipublikasikan, lebih baik siapkan uang tunai untuk kotak donasi atau parkir.

2. Makam Batu Layang: Peristirahatan Sultan dan Keluarga

Berada di Jalan Gusti Situt Mahmud, tidak jauh dari pusat kota Pontianak. Kompleks pemakaman ini merupakan tempat bersemayamnya Sultan Syarif Abdurrahman dan para keturunannya. Nisan-nisan batu berukir khas Melayu dan kaligrafi Arab menghiasi area seluas sekitar setengah hektar.

Lokasinya mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat. Tidak ada jam buka resmi, namun disarankan datang sebelum sore. Jaga sikap dan tutur kata karena area ini masih aktif digunakan untuk ziarah oleh masyarakat.

3. Tugu Khatulistiwa: Ikon Sains dan Sejarah

Tugu ini terletak di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, tepat di garis lintang 0 derajat. Dibangun pada 1928 oleh ahli geografi Belanda, kemudian direnovasi beberapa kali. Bentuknya seperti kubah dengan lingkaran besi di tengah yang menjadi penanda titik nol bumi.

Setiap tahun, sekitar bulan Maret dan September, terjadi fenomena kulminasi matahari — bayangan benda hilang sejenak karena posisi matahari tepat di atas kepala. Tempat ini buka setiap hari, tapi cek jadwal kulminasi jika ingin menyaksikan momen langka tersebut. Area parkir cukup luas untuk bus wisata.

4. Museum Negeri Pontianak: Jejak Arkeologi dan Etnografi

Beralamat di Jalan Jenderal Ahmad Yani, museum ini menyimpan koleksi dari zaman prasejarah hingga masa kolonial. Mulai dari kapak batu, gerabah kuno, hingga replika rumah tradisional Dayak. Bangunannya sendiri merupakan bekas rumah jabatan residen Belanda.

Informasi mengenai harga tiket dan jam operasional kerap berubah, jadi pantau akun media sosial resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar sebelum datang. Pengunjung disarankan menyisihkan waktu minimal satu jam untuk melihat seluruh ruangan pameran.

5. Benteng Amawang: Peninggalan Kesultanan Mempawah

Terletak di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, sekitar dua jam perjalanan dari Pontianak. Benteng ini dibangun dari batu bata dan batu kali, berdiri di tepian sungai. Fungsinya sebagai pertahanan Kesultanan Mempawah dari serangan bajak laut dan kolonial.

Kondisi benteng masih cukup terawat, meski beberapa bagian mulai ditumbuhi lumut. Akses jalannya cukup baik, bisa dilalui mobil. Tidak ada petugas tetap di lokasi, jadi bawalah bekal air minum sendiri. Cocok untuk wisata sejarah sambil menikmati suasana pedesaan.

6. Rumah Betang Radakng: Simbol Kebersamaan Suku Dayak

Berada di Jalan Purnama, Pontianak Timur, rumah betang ini merupakan salah satu yang terbesar di Kalbar. Panjangnya mencapai 138 meter, dihuni oleh puluhan keluarga dari berbagai sub-suku Dayak. Di dalamnya terdapat ruang bersama, tempat tidur, dan bale-bale untuk menerima tamu.

Pengunjung bisa melihat langsung aktivitas sehari-hari penghuni, termasuk anyaman rotan dan tenun tradisional. Tidak ada biaya masuk, tapi kamu bisa membeli kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Jaga etika dengan tidak memasuki area privat tanpa izin dari tetua adat.

7. Makam Juang Mandor: Monumen Perjuangan Rakyat

Terletak di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, sekitar 80 kilometer dari Pontianak. Kompleks ini merupakan lokasi eksekusi massal oleh Jepang pada 1944 terhadap tokoh-tokoh pergerakan dan bangsawan Melayu-Dayak. Terdapat monumen tinggi dan deretan nisan yang ditata rapi.

Setiap tahun digelar upacara peringatan yang dihadiri veteran dan keluarga korban. Medan menuju lokasi cukup menanjak, jadi pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Bawa topi dan air minum karena area makam cukup terbuka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa destinasi sejarah termudah diakses dari pusat Pontianak?
Istana Kadriah dan Tugu Khatulistiwa berada di dalam kota, bisa ditempuh dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi dalam waktu 15-30 menit.

Apakah tempat-tempat ini ramah untuk anak-anak?
Museum Negeri Pontianak dan Rumah Betang Radakng paling ramah anak karena area luas dan banyak spot edukatif.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke objek wisata sejarah Kalbar?
Pagi hari antara pukul 08.00-10.00 untuk menghindari panas dan hujan. Musim kemarau (Mei-September) lebih disarankan.

Apakah ada pemandu wisata di lokasi?
Di Istana Kadriah dan Museum Negeri biasanya ada petugas yang siap menjelaskan. Untuk lokasi lain, lebih baik baca sejarahnya dulu atau bergabung dengan komunitas heritage.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi semua tempat?
Minimal tiga hari jika ingin santai. Prioritaskan Istana Kadriah, Tugu Khatulistiwa, dan Museum Negeri untuk kunjungan singkat.

Kalimantan Barat menawarkan lebih dari sekadar pemandangan alam. Jejak sejarah yang tersebar dari pesisir hingga pedalaman menyimpan narasi panjang tentang perdagangan, kekuasaan, dan perlawanan. Setiap sudutnya layak dijelajahi — asal kamu punya waktu dan rasa ingin tahu yang cukup.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks