KALIMANTAN BARAT — Sebagian anak memang memproses emosi dan rangsangan sensorik jauh lebih dalam dibanding teman seusianya. Kenali dua tanda utama anak dengan sensitivitas tinggi, plus cara mendampinginya di rumah tanpa harus melindunginya dari setiap situasi.
Ada anak yang santai saat berada di keramaian, ada pula yang langsung menutup telinga begitu mendengar suara petasan. Perbedaan ini bukan soal manja atau cari perhatian, melainkan cara kerja sistem saraf yang memang berbeda sejak lahir.
Istilah kerennya sensory processing sensitivity (SPS), yaitu karakteristik temperamen yang membuat seseorang memproses informasi emosional dan sensorik lebih mendalam. Anak dengan SPS bisa bereaksi lebih kuat, baik terhadap pengalaman menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Respons Emosional yang Terasa Lebih Besar
Tanda pertama yang paling mudah diamati adalah reaksi emosi yang tidak sebanding dengan pemicunya. Anak bisa menangis lama hanya karena salah mengambil warna krayon, atau murung berhari-hari setelah bertengkar kecil dengan sahabatnya.
Beberapa perilaku yang sering muncul pada anak dengan sensitivitas emosional tinggi:
- Sulit pulih setelah kecewa, butuh waktu lama untuk kembali ceria.
- Cemas berlebihan saat melihat atau mengalami konflik, bahkan konflik kecil antar teman.
- Menganggap teguran biasa sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.
- Terlalu banyak memikirkan situasi pertemanan, misalnya takut dijauhi karena satu kesalahan.
- Menganggap kesalahan sepele sebagai kegagalan pribadi.
Penelitian yang dibahas Psychology Today menunjukkan, sensitivitas emosional tinggi bisa berkaitan dengan kecemasan dan depresi pada anak. Risiko ini membesar ketika anak kurang mendapat dukungan dan respons peka dari orang terdekatnya.
Hal Biasa pun Bisa Membuatnya Kewalahan
Tanda kedua terlihat dari reaksi terhadap rangsangan sensorik. Suara blender, cahaya lampu yang terang, atau label baju yang menggesek kulit bisa terasa jauh lebih mengganggu bagi anak sensitif dibanding anak lain.
Contoh perilaku yang mungkin Bunda temui sehari-hari:
- Menutup telinga atau menjauh saat mendengar suara keras, seperti petasan atau motor balap.
- Menolak memakai pakaian dengan tekstur atau label tertentu.
- Reaksi kuat terhadap aroma, misalnya menutup hidung di dapur saat memasak.
- Memilih bermain sendiri di sudut tenang saat pesta ulang tahun ramai.
- Rewel atau menangis tanpa sebab jelas setelah berada di tempat ramai.
Sensitivitas sensorik dan emosional bukan gangguan atau