KALIMANTAN BARAT — Data Trademap yang diolah Databoks menunjukkan total ekspor Indonesia ke Afghanistan pada 2025 mencapai US$ 6,39 juta. Angka ini memang naik tipis 2,21% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 6,25 juta. Namun, jika ditarik lebih panjang, performa ini masih jauh dari puncak ekspor yang pernah tercatat US$ 77,41 juta. Dalam 10 tahun terakhir, nilai terendah ekspor ke negara tersebut bahkan sempat menyentuh US$ 5,1 juta.
Lemak dan Minyak Hewani Kini Jadi Motor Ekspor Utama
Dari total 97 produk (kode HS dua digit) yang dikirim ke Afghanistan, sebanyak 40 produk bernilai di atas satu miliar dolar. Namun, yang menonjol adalah produk berkode HS 15: lemak dan minyak hewan, sayuran, atau mikroba serta produk pemecahannya. Kategori ini mencakup lemak siap konsumsi dan minyak nabati olahan.
Kenaikan ekspor komoditas ini dari US$ 265 ribu menjadi US$ 2,64 juta dalam setahun menunjukkan pergeseran permintaan pasar Afghanistan. Produk ini kini menjadi penyumbang terbesar, menggeser posisi buah dan kacang-kacangan yang biasanya menjadi andalan.
Buah, Farmasi, dan Kaca Ikut Mengisi Keranjang Ekspor
Di posisi kedua, ekspor buah dan kacang yang dapat dimakan (HS 08) tercatat US$ 1,15 juta. Produk farmasi menyusul dengan nilai US$ 1,04 juta, diikuti kaca dan barang kaca sebesar US$ 0,96 juta. Kopi, teh, mate, dan rempah-rempah menutup lima besar dengan nilai US$ 0,23 juta, naik dari US$ 200 ribu pada periode sebelumnya.
Menariknya, produk farmasi dan kaca asal Indonesia juga tercatat sebagai salah satu pemasok utama ke Afghanistan, bersaing dengan negara-negara seperti Albania, Aljazair, dan beberapa negara di Afrika yang tidak disebutkan secara spesifik dalam data.
Konteks: Perdagangan yang Menyusut, Tapi Ada Ceruk Baru
Meski secara volume total ekspor Indonesia ke Afghanistan terus menurun dalam satu dekade—dari puncak US$ 77,41 juta ke kisaran US$ 6 juta—lonjakan permintaan lemak dan minyak hewani membuka peluang baru. Produk-produk lain seperti kopi dan rempah juga menunjukkan tren positif, meski dengan nilai yang masih kecil.
Bagi pelaku bisnis, data ini menandakan bahwa pasar Afghanistan masih memiliki ceruk yang bisa digarap, terutama pada produk olahan berbasis minyak nabati dan lemak hewani. Namun, volatilitas politik dan logistik tetap menjadi risiko utama yang perlu diperhitungkan sebelum ekspansi besar-besaran.