Fenomena anomali ini menempatkan Kalbar di urutan kedua daerah terbasah di Indonesia selama periode tersebut. Berdasarkan data hidrometeorologi BNPB, hanya Kepulauan Riau yang mencatat curah hujan lebih tinggi, yakni 81 milimeter per hari. Disusul Papua Tengah dengan 57 milimeter per hari dan Sumatera Utara 54 milimeter per hari.
Pemicu Hujan di Tengah Kemarau: Gelombang Atmosfer Global
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan kondisi basah di tengah musim kemarau ini dipicu oleh aktifnya sejumlah dinamika atmosfer global. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergerak aktif di sebagian daratan Papua turut memengaruhi pola cuaca.
"Meskipun musim kemarau semakin meluas, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia, terutama di bagian utara dan sekitar ekuator," kata Abdul dalam keterangan resmi, Jumat (3/7).
Selain MJO, pertumbuhan awan hujan di Kalimantan juga dipicu oleh pergerakan Gelombang Kelvin. Faktor-faktor atmosfer skala global ini diperkuat oleh peningkatan aktivitas konvektif akibat tingkat labilitas atmosfer yang kuat di wilayah sekitar ekuator, termasuk Kalimantan Barat.
Kontras dengan Daerah Lain: El Nino Picu Suhu di Atas 35 Derajat
Situasi di Kalbar sangat kontras dengan kondisi di wilayah Indonesia lainnya. BNPB mencatat terdapat 493 titik pengamatan yang mengalami Hari Tanpa Hujan kategori panjang. Lonjakan suhu di atas 35 derajat Celsius terjadi di Lampung, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur akibat fenomena El Nino di Samudra Pasifik.
Artinya, saat sebagian daerah berjuang menghadapi krisis air bersih dan kebakaran lahan, Kalbar justru harus bersiap menghadapi potensi bencana yang berbeda.
Imbauan BNPB: Risiko Genangan dan Banjir Lokal Meningkat
Meskipun hujan membawa kesegaran di tengah musim kemarau, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat Kalbar untuk tetap waspada. Anomali hujan ini dapat meningkatkan risiko genangan, banjir lokal, hingga gangguan terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari.
"Kami mengimbau agar kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi tetap ditingkatkan," tegas Abdul Muhari. Bagi Kalbar, ancaman bukan lagi kekeringan, melainkan potensi luapan air yang bisa muncul secara tiba-tiba di titik-titik rendah perkotaan dan permukiman.