KALIMANTAN BARAT — Patreon resmi memberhentikan 93 karyawan, setara 20 persen dari total staf, seperti diumumkan CEO Jack Conte dalam blog resmi perusahaan, Selasa (16/7). Langkah ini menjadi yang terbaru dalam gelombang PHK di industri teknologi global.
Pesangon 16 Pekan Gaji dan Bantuan Laptop
Karyawan yang terdampak mendapat paket pesangon 16 pekan gaji pokok, ditambah satu pekan gaji tambahan untuk setiap tahun masa kerja. Patreon juga menanggung biaya kesehatan hingga akhir tahun dan memberikan tunjangan pembelian laptop.
"Kami meratakan struktur organisasi, memfokuskan ulang tim pada prioritas utama, dan mengubah aspek operasional agar lebih cepat beradaptasi," tulis Conte. Perusahaan juga menyiapkan pembayaran kompensasi tambahan bagi karyawan tertentu yang tidak memenuhi syarat pesangon standar.
AI: Antara Melindungi Kreator dan Mengubah Bisnis
Sikap Patreon terhadap AI terbilang unik. Di satu sisi, perusahaan melindungi kreator dari perampasan konten untuk pelatihan AI. Pada 16 Juli, Patreon mengadopsi alat Cloudflare AI Crawl Control untuk memblokir crawler yang mengumpulkan karya kreator guna melatih model AI.
"Beberapa crawler pencarian membantu orang menemukan kreator di luar Patreon. Crawler lain mengumpulkan karya Anda untuk melatih model AI. Kami mengizinkan yang pertama dan membatasi yang terakhir," demikian pernyataan resmi perusahaan.
Namun di sisi lain, Conte menegaskan AI tetap mengubah cara Patreon beroperasi. "AI bukan pengganti kreativitas manusia, tapi berdampak pada cara kami bekerja dan berorganisasi," ujarnya. Dalam wawancara awal tahun ini, ia bahkan menyebut Patreon harus merangkul AI sebagai perusahaan produk dan engineering, atau "kami akan mati dalam tiga tahun."
Perubahan Model Konten Jadi Celah Baru
Dorongan Patreon agar kreator menawarkan konten gratis dan menggunakan platform seperti media sosial justru membuka celah baru. Sebelumnya, sebagian besar konten Patreon terkunci di balik paywall sehingga crawler AI tidak bisa menjangkaunya. Kini, konten gratis lebih rentan diambil tanpa izin.
Langkah PHK ini menunjukkan Patreon sedang menyeimbangkan dua kebutuhan: melindungi ekosistem kreator dari eksploitasi AI, sekaligus merampingkan biaya operasional untuk bertahan di era yang didominasi otomatisasi. Bagi kreator Indonesia yang menggunakan Patreon, perubahan ini patut dicermati karena dapat memengaruhi kebijakan platform ke depan.