PONTIANAK — Kebiasaan minum kopi yang selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, ternyata memiliki sisi lain bagi organ ginjal. Sejumlah penelitian justru menemukan kaitan antara konsumsi kopi dalam takaran wajar dengan risiko penyakit ginjal kronis dan batu ginjal yang lebih rendah.
Temuan ini menjadi kabar baik bagi para penikmat kopi, termasuk di Kalimantan Barat yang memiliki budaya ngopi yang kuat. Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak serta-merta menjadi izin untuk mengonsumsi kopi secara berlebihan.
Salah satu meta-analisis yang dimuat dalam The International Journal of Clinical Practice menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi dan penurunan risiko penyakit ginjal kronis. Orang yang mengonsumsi sedikitnya dua cangkir kopi per hari tercatat memiliki risiko penyakit ginjal sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang minum kopi.
Ahli gizi Melanie Betz menjelaskan, efek perlindungan tersebut kemungkinan besar berasal dari senyawa bioaktif dalam kopi, bukan semata-mata kafein. Kopi mengandung lebih dari 1.000 senyawa alami, termasuk asam klorogenat, polifenol, dan melanoidin yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi.
“Manfaat kopi terhadap ginjal tidak sepenuhnya berasal dari kafein,” kata Sara Prato, ahli gizi lainnya. Karena itu, kopi tanpa kafein pun berpotensi memberikan sebagian manfaat serupa meski kandungan kafeinnya jauh lebih rendah.
Selain menurunkan risiko penyakit ginjal kronis, kopi juga dikaitkan dengan risiko batu ginjal yang lebih rendah. Mekanismenya berkaitan dengan kemampuan kopi dalam meningkatkan produksi urine. Volume urine yang lebih banyak membantu mengencerkan mineral pembentuk batu sebelum sempat berkembang menjadi kristal.
“Kopi dapat membantu dengan meningkatkan volume urine, yang dapat mengencerkan dan membersihkan mineral pembentuk batu sebelum mineral tersebut memiliki kesempatan untuk membentuk kristal,” jelas Prato, Rabu (19/8/2026).
Meski demikian, kopi tidak boleh dijadikan pengganti air putih. Mencukupi kebutuhan cairan harian tetap menjadi langkah utama dalam mencegah terbentuknya batu ginjal.
Manfaat potensial kopi bagi kesehatan sangat bergantung pada cara penyajiannya. Penambahan gula, sirup, atau krim dalam jumlah besar justru dapat meniadakan efek baik tersebut dan meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan.
Menurut Melanie Betz, minuman kopi dengan tambahan gula tinggi bisa mengandung gula jauh melebihi batas harian yang dianjurkan. Kopi hitam dengan sedikit atau tanpa tambahan gula menjadi pilihan yang jauh lebih baik bagi kesehatan ginjal.
Perlu diingat pula bahwa kopi mengandung kalium. Satu cangkir kopi berukuran 8 ons mengandung sekitar 100 miligram kalium. Bagi kebanyakan penderita penyakit ginjal kronis, jumlah ini masih dapat ditoleransi. Namun, mereka yang memiliki kadar kalium darah tinggi atau sedang menjalani pembatasan asupan kalium perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin minum kopi.
American Heart Association (AHA) dalam pernyataan ilmiahnya pada 2026 menyebut konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari umumnya aman bagi sebagian besar orang dewasa. Jumlah itu kira-kira setara dengan tiga hingga lima cangkir kopi hitam berukuran 8 ons, tergantung kadar kafeinnya.
Namun, batas tersebut tidak berlaku seragam. Respons tubuh terhadap kafein bisa berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan, kebiasaan konsumsi, faktor genetik, serta kemampuan tubuh dalam memetabolisme kafein.
Pada akhirnya, kopi bukanlah obat untuk penyakit ginjal. Jika dikonsumsi secara wajar dan tanpa tambahan gula berlebihan, kopi dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang lebih sehat. Bagi warga yang memiliki riwayat penyakit ginjal atau kondisi kesehatan tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk menentukan porsi kopi yang aman.