Pencarian

Kontribusi Tambang ke PDB Susut ke 8,75% di 2025, Sarjito Soroti Potensi Nikel yang Belum Tergarap

Senin, 24 Agustus 2026 • 20:18:31 WIB
Kontribusi Tambang ke PDB Susut ke 8,75% di 2025, Sarjito Soroti Potensi Nikel yang Belum Tergarap
Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDB Indonesia tercatat menurun menjadi 8,75 persen pada 2025.

KALIMANTAN BARAT — Data yang dipaparkan Sarjito dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2026), menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Setelah menyentuh 12,22% pada 2022, porsi sektor ini turun ke 10,52% pada 2023, lalu 9,15% pada 2024, dan kembali menyusut ke 8,75% pada 2025.

Padahal, di sisi produksi, Indonesia menduduki peringkat teratas dunia untuk nikel, nomor dua untuk timah, serta memiliki cadangan kobalt dan batubara yang signifikan. "Potensi kontribusi sektor mineral terhadap PDB sangat besar. Bisa kita lihat bersama bahwa mineral yang ada di Indonesia, terutama nikel, kita nomor 1 di dunia. Timah kita nomor dua, cobalt kita cukup besar, dan batubara terbesar setelah China," ujarnya dalam paparan tersebut.

Faktor di Balik Turunnya Porsi Sektor Tambang

Penurunan kontribusi ini terjadi di tengah gejolak harga komoditas global pasca-pandemi. Setelah melonjak pada 2022, harga nikel dan batubara mengalami koreksi signifikan sepanjang 2023 hingga 2024, seiring perlambatan ekonomi China dan normalisasi rantai pasok dunia.

Selain faktor eksternal, struktur industri pengolahan dalam negeri juga ikut memengaruhi angka PDB. Saat nilai tambah hilirisasi mulai terbentuk di sektor industri manufaktur, sebagian output yang sebelumnya tercatat di sektor pertambangan dan penggalian kini berpindah klasifikasi ke sektor pengolahan. Pergeseran statistik ini membuat porsi tambang di PDB tampak menyusut meski aktivitas ekonominya tetap berjalan.

Arti Penurunan Ini bagi Penerimaan Negara dan Investor

Bagi pemerintah, tren ini berimplikasi pada penerimaan negara dari sektor royalti dan pajak pertambangan. Bagi investor, penurunan kontribusi PDB kerap dibaca sebagai sinyal pelemahan daya beli sektor hulu, meski fundamental volume produksi nasional masih tergolong solid.

Sarjito sendiri tengah diusulkan mengisi pos anyar di OJK, yakni pengawas bursa mineral dan komoditas strategis. Lembaga ini nantinya akan mengawasi perdagangan komoditas tambang di bursa berjangka, sebuah langkah yang diharapkan mampu memperbaiki tata niaga dan meningkatkan nilai tambah bagi negara.

Kehadiran bursa mineral ini dinilai strategis untuk menjawab persoalan jangka panjang, seperti fluktuasi harga dan transparansi perdagangan. Jika berjalan efektif, instrumen ini bisa menjadi katalis baru bagi sektor pertambangan untuk kembali berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Investasi dan perdagangan aset berjangka mengandung risiko tinggi. Calon investor disarankan memahami mekanisme bursa komoditas dan profil risikonya sebelum bertransaksi.

Follow kabarsingkawang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks