PONTIANAK — Ancaman pencabutan izin itu disampaikan langsung oleh pejabat Kementerian Pertanian dalam sebuah forum koordinasi dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, pekan lalu. Langkah tegas ini diambil setelah ditemukan sejumlah PKS yang secara sengaja membeli TBS petani dengan harga di bawah patokan yang telah ditetapkan pemerintah, yang berpotensi memukul pendapatan petani sawit di Kalbar.
Pelanggaran utama yang disorot adalah ketidakpatuhan terhadap Harga Patokan Pembelian (HPP) TBS sawit yang telah ditetapkan secara berkala oleh pemerintah. HPP ini berfungsi sebagai batas bawah harga yang wajib dibayarkan PKS kepada petani, dengan mempertimbangkan fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global dan biaya produksi petani. Jika PKS membeli di bawah HPP, maka petani dipastikan merugi.
Praktik pembelian di bawah HPP selama ini membuat petani sawit di Kalimantan Barat, yang sebagian besar adalah pekebun swadaya, kesulitan menutup biaya operasional kebun. Pendapatan mereka tergerus, sementara biaya pupuk dan perawatan terus meningkat. Ancaman pencabutan izin ini diharapkan menjadi efek jera bagi PKS yang selama ini bermain curang.
Pemerintah tidak hanya memberikan ancaman, tetapi juga akan melakukan pengawasan dan audit ketat terhadap semua PKS di Kalimantan Barat. Tim gabungan dari dinas terkait akan diterjunkan untuk memeriksa bukti pembelian TBS dari petani. Jika terbukti melanggar, sanksi administratif hingga pencabutan izin operasional akan dijatuhkan tanpa toleransi.
"Kami tidak akan segan-segan mencabut izin PKS yang terus-menerus merugikan petani. Ini adalah bentuk keberpihakan negara kepada pekebun," ujar seorang pejabat Kementerian Pertanian dalam forum tersebut, seperti dikutip dari siaran pers Dinas Perkebunan Kalbar.
Petani sawit diimbau untuk melaporkan langsung ke Dinas Perkebunan setempat jika menemukan PKS yang membeli TBS di bawah HPP. Laporan tersebut akan menjadi data awal bagi pemerintah untuk melakukan penindakan. Selain itu, petani juga didorong untuk membentuk kelompok tani yang kuat agar memiliki posisi tawar yang lebih baik saat menjual hasil kebunnya.