KALIMANTAN BARAT — Ketika Arsenal memastikan gelar Premier League pada pekan lalu, euforia tidak hanya meledak di sekitar Emirates Stadium. Ribuan suporter turun ke jalan di Nairobi, Addis Ababa, hingga Kampala. Di London, perayaan berlangsung berhari-hari, dan parade akhir pekan ini diperkirakan akan menjadi puncaknya.
Momen di Selhurst Park yang Menyimpan Makna
Lokasi pengangkatan trofi justru terjadi di markas Crystal Palace, Selhurst Park. Tempat itu punya arti khusus: di sanalah Ian Wright, legenda Arsenal dan kini ikon nasional, pernah bermain. Hanya satu stasiun Overground dari Brockley, tempat Wright tumbuh bersama David Rocastle, pemegang nomor punggung 7 yang kini dikenakan Bukayo Saka.
Foto yang beredar memperlihatkan Saka, Eberechi Eze, Myles Lewis-Skelly, Noni Madueke, dan Jurrien Timber — semuanya keturunan Afrika Barat dan Karibia — berpose di depan pendukung Arsenal yang riuh. “Itu adalah pengingat akan kekayaan tapestri klub,” tulis jurnalis The Guardian yang juga penggemar Arsenal, dalam artikel The Long Wave.
Akar Sejarah yang Membentuk Identitas
Hubungan Arsenal dengan pemain kulit hitam bukan fenomena baru. Clive Chijioke Nwonka, penulis buku Black Arsenal (2024), menyebut tidak ada klub lain yang memiliki dampak kultural sebesar Arsenal terhadap pendukungnya. Paul Davis, produk akademi di era 1980-an, menjadi pionir di tengah perpecahan politik dan sosial saat itu.
Ia membuka jalan bagi Rocastle dan Michael Thomas, yang menjadi pembicaraan utama di barbershop setelah gelar dramatis 1989 di Anfield. Kevin Campbell menyusul lewat akademi, lalu Ian Wright hadir dengan energi khasnya — selebrasi Bogle dance-nya di layar kaca awal 1990-an menjadi simbol ekspresi budaya kulit hitam yang aman di ruang ketiga yang disucikan.
Era Wenger dan Tim Hampir Semua Pemain Kulit Hitam
Kedatangan Arsène Wenger pada 1996 memperkuat tradisi itu. Selama 22 tahun, Wenger membangun tim dengan pemain kulit hitam sebagai protagonis utama, memperluas pengaruh Arsenal ke luar Kepulauan Inggris. Pengetahuannya tentang pasar Afrika dan kepercayaannya pada pemain dari benua itu memenangkan hati penggemar internasional.
Pada September 2002, Arsenal menurunkan susunan pemain yang hampir seluruhnya berkulit hitam saat melawan Leeds United. Momen itu menjadi bukti betapa klub ini telah menjadi rumah bagi pemain dari diaspora — sebuah warisan yang terus menyala, baik di masa jaya maupun masa sulit.
Dukungan dari Figur Publik hingga Suporter Biasa
Kesetiaan penggemar kulit hitam terhadap Arsenal bertahan selama 20 tahun tanpa gelar liga. Di antara mereka ada sutradara Spike Lee yang memimpin perayaan di Brooklyn, aktor Daniel Kaluuya, Idris Elba, rapper 21 Savage, dan Lady Lola Young. “Tidak ada yang terjadi begitu saja karena menang,” tulis artikel tersebut. Klub bekerja keras untuk mempertahankan ikatan kultural yang tetap berada di level tertinggi.