KALIMANTAN BARAT — Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pihaknya telah menyita aset kripto Iran senilai sekitar 1 miliar dolar AS dalam operasi yang disebutnya langsung menyasar dompet digital para pemegangnya. Pengumuman itu disampaikan Bessent pada Jumat (pekan lalu) dan dilansir Antara dari Anadolu.
"Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar," kata Bessent. Ia menambahkan bahwa sebagian pemilik aset bahkan tidak menyadari aset mereka sudah diambil alih. "Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik saat ini, dan sadar kalau mereka tidak sadar dompet mereka sudah diambil," ujarnya.
Koordinasi dengan Sekutu Eropa untuk Perampasan Properti
Bessent mengungkapkan bahwa operasi perampasan tidak berhenti pada aset digital. Pemerintah AS disebutnya terus berkoordinasi dengan sekutu-sekutu di Eropa untuk menyita aset fisik milik Iran, termasuk vila, rumah, dan properti lainnya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi finansial yang lebih luas untuk menekan Teheran.
"Kami bekerja sama dengan sekutu-sekutu di seluruh Eropa untuk merampas vila-vila, rumah-rumah, dan properti," tutur Bessent. Ia mengeklaim bahwa aset-aset yang disita tersebut berasal dari uang yang dicuri dari rakyat Iran.
Blokade Laut dan Dampak Diplomasi Iran di Teluk
Dalam pernyataannya, Bessent juga menyebut fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg sudah mati menyusul blokade laut yang diterapkan AS. Ia menambahkan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara Teluk justru menjadi bumerang dalam diplomasi. Negara-negara di kawasan itu kini disebutnya menjadi "mitra yang sangat baik" dalam upaya menindak Teheran lewat jalur finansial.
Dengan dukungan negara-negara Teluk, AS disebut dapat membekukan rekening bank asal Iran di kawasan tersebut. Bessent tidak merinci nilai total aset perbankan yang dibekukan atau daftar properti yang telah disita dalam operasi terbaru ini.