PONTIANAK — Suara sumbang dari para pengemudi truk di Kalimantan Barat kembali terdengar. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar bersubsidi yang selama ini menjadi urat nadi operasional angkutan logistik dan barang. Keluhan ini bukan sekadar keresahan biasa, melainkan sudah mengarah pada tuntutan tegas agar aparat bertindak.
Mengapa Solar Subsidi Sulit Didapatkan?
Dalam beberapa pekan terakhir, antrean panjang kendaraan bermuatan terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kalimantan Barat. Para sopir harus rela mengantre berjam-jam, bahkan ada yang gagal mendapatkan jatah solar karena kuota habis sebelum giliran mereka tiba.
“Kami sudah kewalahan. Setiap hari cari solar, kadang dapat, kadang tidak. Ini sangat mengganggu pekerjaan,” ujar seorang sopir truk yang enggan disebutkan namanya di Pontianak, Senin lalu. Ia menduga kuat praktik penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi penyebab utama kelangkaan ini.
Kronologi: Dari Antrean Panjang Hingga Desakan ke Aparat
Fenomena ini bukan baru pertama kali terjadi. Pada awal tahun lalu, keluhan serupa sempat mereda setelah ada operasi pasar. Namun, dalam sebulan terakhir, tekanan kembali terasa. Para sopir yang tergabung dalam beberapa komunitas angkutan akhirnya mengambil sikap.
Mereka mendesak polisi dan dinas terkait untuk mengusut tuntas dugaan penimbunan solar bersubsidi. “Kami minta penegak hukum turun tangan. Jangan hanya diam. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian daerah maupun Pertamina terkait langkah konkret yang akan diambil. Namun, desakan dari para sopir truk ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera memastikan distribusi BBM subsidi berjalan lancar dan tepat sasaran.
Kelangkaan solar bersubsidi tidak hanya memicu kemacetan di antrean SPBU, tetapi juga berpotensi menaikkan biaya logistik. Jika tidak segera diatasi, dampaknya bisa merembet pada harga kebutuhan pokok di Kalimantan Barat.