KALIMANTAN BARAT — Yogyakarta bersiap menggelar puncak perayaan Bulan Warisan Dunia 2026 pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Sepanjang koridor Sumbu Filosofi—dari Malioboro hingga Margomulyo—akan berubah menjadi panggung raksasa yang menampilkan batik, wayang, keris, gamelan, pencak silat, jamu, dan kebaya dalam satu rangkaian utuh.
Efisiensi anggaran hingga 40 persen tidak mengubah skala ambisi perayaan ini. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyebut keterbatasan dana justru menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas pihak.
"Anggaran mungkin semakin kecil, tetapi jangan sampai tujuan dan dampak yang kita inginkan ikut turun. Justru ini menjadi hikmah karena mampu menyatukan seluruh stakeholder untuk bergerak bersama," ujar Dian dalam konferensi pers di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY.
Perayaan dimulai sejak subuh dan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Sepanjang hari, pengunjung bebas menyusuri kawasan Malioboro yang menjadi pusat atraksi. Salah satu acara yang paling dinanti adalah 100 Dalang Manjing Malioboro, menghadirkan 100 dalang lintas generasi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat sambil memperkenalkan tokoh dan filosofi wayang.
Bagi pengunjung yang ingin belajar, tersedia lokakarya pembuatan wayang suket dan tata sungging. Kegiatan ini cocok untuk keluarga yang membawa anak-anak karena bisa mencoba langsung membuat wayang dari bahan sederhana.
Di depan Hamzah Batik, acara Keris on the Street memamerkan koleksi keris, menyediakan konsultasi, dan menunjukkan proses penempaan logam melalui besalen mobile. Pengunjung bisa menyaksikan langsung bagaimana bilah keris ditempa oleh empu.
Parade Budaya menampilkan enam kelompok Shalawat Maulud Jawi dan Jathilan terbaik dari berbagai daerah di DIY. Kelompok-kelompok ini tampil bergiliran sepanjang kawasan Malioboro.
Puncak acara malam hari adalah Sabetan Pencak di Titik Nol, pertunjukan yang memadukan pencak silat tradisional dengan koreografi modern dan battle dance. Kombinasi ini memberikan pengalaman visual yang berbeda dari pertunjukan silat konvensional.
Salah satu agenda internasional yang menarik adalah Pencak Wisata Budaya, mempertemukan 22 peserta mancanegara dengan komunitas pencak silat tradisional Yogyakarta. Peserta berasal dari Uganda, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Belanda, Ukraina, dan Pakistan.
Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi, menjelaskan para peserta asing memulai perjalanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk dikeliling ke lokasi-lokasi budaya. "Kami lebih cenderung menceritakan ini sebagai diplomasi budaya," katanya.
UGM turut mendukung kegiatan ini karena pengenalan budaya lokal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Para peserta asing diharapkan terus mempelajari pencak silat setelah kembali ke negara masing-masing.
Bulan Warisan Dunia 2026 sebenarnya telah berlangsung sejak Juli. Konser kolaborasi bersama Melbourne Symphony Orchestra menjadi salah satu agenda pembuka yang menegaskan skala internasional perayaan ini.
Setelah puncak 29 Agustus, rangkaian acara berlanjut hingga pekan keempat September dan ditutup melalui Jogja World Heritage Festival. Ini menjadi kesempatan bagi wisatawan yang tidak bisa hadir pada akhir pekan puncak untuk tetap menikmati perayaan.
Kawasan Malioboro akan padat pada 29 Agustus. Datanglah lebih awal untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan parade, atau manfaatkan transportasi umum seperti Trans Jogja untuk menghindari kemacetan. Gunakan alas kaki yang nyaman karena rute perayaan membentang jauh, dan bawa topi atau payung untuk melindungi diri dari panas siang hari.
Bagi wisatawan yang ingin mengikuti lokakarya wayang suket atau konsultasi keris, alokasikan waktu ekstra karena antrean bisa panjang. Informasi jadwal detail dan perubahan acara dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi Dinas Kebudayaan DIY.