BENGKAYANG — Polres Bengkayang tidak lagi mengandalkan personel internal saja dalam memadamkan api di lahan gambut. Wakapolres Bengkayang, Kompol Suparwoto, menyebut satu peleton Brimob yang tiba merupakan instruksi langsung dari Kapolri untuk memperkuat jajaran di daerah yang tengah dilanda darurat asap.
“Brimob yang kita terima sebanyak satu peleton dan akan ditempatkan di tiga rayonisasi, yakni 15 personel di Kecamatan Sungai Raya, 5 personel di Bengkayang, dan 10 personel di Jagoi Babang,” kata Suparwoto di Kantor Polres Bengkayang, didampingi Kasi Humas Ipda Boni Pasius.
Pembagian lokasi penempatan personel Brimob ini bukan tanpa alasan. Tiga kecamatan tersebut dinilai sebagai titik rawan yang membutuhkan kecepatan gerak petugas saat kebakaran terjadi.
Dengan posisi yang tersebar, diharapkan personel dapat segera bergerak menuju lokasi kebakaran untuk membantu proses pemadaman. Polres juga tetap menyiagakan tiga regu personel internal setiap harinya untuk memadamkan api di seluruh wilayah hukum mereka.
Kepolisian memetakan sedikitnya tujuh kecamatan yang memiliki potensi kebakaran tinggi. Wilayah tersebut meliputi Sungai Raya, Sungai Raya Kepulauan, Capkala, Monterado, Jagoi Babang, Seluas, dan Siding.
Sebagian besar wilayah tersebut merupakan kawasan dengan hamparan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan jika api sudah menjalar ke dalam tanah. Kondisi ini diperparah dengan kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas warga.
“Situasi saat ini sudah darurat karhutla dan kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk perekonomian dan situasi kamtibmas,” ujarnya.
Kabut asap yang menyelimuti Bengkayang tidak hanya mengganggu pernapasan. Polres mengkhawatirkan dampak lanjutan yang bisa melumpuhkan aktivitas publik, mulai dari gangguan pada jadwal penerbangan hingga proses belajar mengajar di sekolah.
Kepolisian juga mengantisipasi potensi kebakaran yang meluas hingga mendekati kawasan permukiman penduduk apabila penanganan di lapangan tidak berjalan cepat.
Di tengah penguatan personel, Polres Bengkayang mengingatkan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membakar lahan, baik untuk persiapan pertanian maupun perkebunan. Metode ini dinilai sangat berisiko di tengah kondisi cuaca kering saat ini.
“Kita sama-sama menjaga untuk saat ini tidak lagi melakukan pembakaran lahan untuk persiapan pertanian atau perkebunan. Situasinya sudah seperti ini dan dampaknya sudah banyak mengganggu aktivitas masyarakat, sehingga harus dihentikan agar kabut asap tidak semakin parah,” tegas Suparwoto.
Pencegahan dari masyarakat dinilai menjadi kunci utama menekan munculnya titik api baru. Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat dan petugas pemadam di lapangan.
Dengan tambahan pasukan Brimob dan kesiapsiagaan tiga regu harian, kepolisian berharap respons terhadap karhutla di Kabupaten Bengkayang dapat dilakukan lebih cepat, sekaligus mengurangi dampak kebakaran dan kabut asap terhadap masyarakat.