KALIMANTAN BARAT — Dokumen lawas yang dibagikan langsung oleh Riot ini memperlihatkan bahwa League of Legends nyaris menjadi game yang sangat berbeda. Alih-alih map kosong Summoner's Rift, game ini awalnya berlatar kota kartun yang terbagi antara dunia "order" dan "chaos". Pemain akan berperan sebagai immortal yang bisa dikustomisasi dan dipanggil ke pertempuran hanya di momen-momen klimaks.
Paul "Pabro" Bellezza dari Riot yang menyerahkan materi tersebut kepada Necrit. Dalam video berdurasi panjang itu, terungkap bahwa beberapa hero tertentu bahkan eksklusif hanya untuk satu dari dua faksi, dan pemain harus memilih kubu sejak awal bermain.
Dari dokumen yang bocor, hanya sedikit elemen yang bertahan hingga versi final game. Annie masih ada dengan boneka beruang apinya, tapi penampilannya jauh berbeda. Sion, champion yang kini dikenal sebagai undead raksasa, justru tampil dengan janggut oranye menyala. Satu-satunya karakter yang nyaris tidak berubah adalah Singed, meski namanya sempat menjadi "Zij" di tahap awal pengembangan.
Yang paling menarik justru datang dari sisi lore. Cerita awal game ini mengangkat dua faksi yang hidup damai sampai "sosok antikristus" lahir dan merobek realitas, membuat kekacauan mengancam seluruh eksistensi. Logo Riot Games di video pitch tersebut bahkan digambarkan berlumuran darah, mempertegas nuansa edgy khas era 2008.
Salah satu temuan menarik lainnya adalah kemampuan pasif champion yang kini kita kenal sebagai Lee Sin. Di versi awal, blind monk ini bernama Xizun dan punya pasif yang dideskripsikan sebagai "built like a brick wall on roids". Deskripsi itu menunjukkan bahwa desain awal champion lebih mengarah ke tanky fighter dibanding assassin mobile seperti sekarang.
Necrit mengungkapkan bahwa beberapa materi ini sebenarnya sudah pernah bocor di masa lalu, tapi banyak detail baru yang belum pernah terlihat publik. Kombinasi video footage, dokumen desain champion, breakdown lore, dan screenshot membuat arsip ini jadi harta karun bagi penggemar yang ingin menelusuri sejarah awal game MOBA paling populer di dunia.
Bagi pemain Indonesia yang sudah bertahun-tahun setia dengan League of Legends, materi ini memberi perspektif baru tentang seberapa jauh game telah berevolusi. Mode 6v6 yang sempat direncanakan, sistem faksi yang akhirnya dibuang, hingga desain champion yang dirombak total menunjukkan bahwa keputusan Riot untuk fokus ke 5v5 di Summoner's Rift adalah pilihan yang tepat.
Meski Riot sudah merilis League of Legends Classic sebagai mode nostalgia, Necrit bercanda bahwa "klasik" versi itu belum cukup. Komunitas disebutnya belum mencapai status true classic sampai Sion kembali tampil dengan janggut oranye terang dan tidak ada satu pun pemain yang mengenali game tersebut.
Dengan adanya arsip ini, wacana tentang "mode klasik sejati" yang mengembalikan elemen-elemen awal seperti Xizun dan Zij mungkin akan semakin ramai diperbincangkan. Namun untuk sekarang, materi pitch deck ini sudah cukup jadi hidangan menarik bagi penggemar yang penasaran dengan masa lalu League of Legends sebelum menjadi fenomena global.