23 Perempuan Adat Kalbar Ikuti Pelatihan Kelola Keuangan Keluarga demi Jaga Kelestarian Hutan

Penulis: Vikri Alfandi  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:07:31 WIB
perempuan adat Kalimantan Barat mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan keluarga untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian hutan adat.

KALIMANTAN BARAT — Meja dapur dan dompet keluarga kini dilihat sebagai benteng pertahanan ekonomi sekaligus instrumen pelestarian hutan bagi masyarakat adat. Pandangan ini mengemuka dalam agenda Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat yang diikuti 23 peserta di Kalimantan Barat pada 3-6 Agustus 2026.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Forest Programme V bersama Balai PSKL Wilayah Kalimantan (BPSKL Banjarbaru), dengan pemateri dari Hannah Asa Indonesia yang berkantor pusat di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Perempuan Adat Ujung Tombak Ekonomi dan Konservasi

Koordinator Nasional Forest Programme V, Desy Ekawati, menegaskan ada keterkaitan erat antara pengelolaan perhutanan sosial dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Menurutnya, ketika perempuan adat cakap mengatur keuangan, mereka sedang membangun perisai bagi keluarganya agar tidak rentan terhadap guncangan ekonomi.

"Pelatihan ini adalah bagian dari bagaimana kita memperkuat pengelolaan perhutanan sosial dengan skema hutan adat, dengan memperkuat peran perempuan yang menjadi ujung tombak dalam pengelolaan keuangan keluarga," tutur Desy.

Ketahanan Finansial Kunci Cegah Eksploitasi Hutan

Ketahanan finansial inilah yang dinilai mampu membuat komunitas tidak mudah goyah atau terpaksa mengeksploitasi hutan secara berlebihan saat masa-masa sulit datang. Tantangan nyata diungkapkan Katarina, salah satu peserta pelatihan. Di daerahnya, denyut ekonomi keluarga sangat bergantung pada hasil panen yang sifatnya musiman dan tidak menentu, sementara laju kebutuhan hidup terus berjalan setiap hari.

Simulasi Praktis: Pisahkan Keinginan dan Kebutuhan

Hannah Asa Indonesia hadir bukan sebagai guru yang mendikte dari mimbar, melainkan sebagai Research, Learning & Capacity Development Partner. Pendiri lembaga tersebut, Mardiyah, turun langsung memandu simulasi praktis—mulai dari memisahkan keinginan dan kebutuhan, mencatat pengeluaran harian, hingga pentingnya menyisihkan dana darurat.

"Kami percaya bahwa literasi keuangan harus hadir di tempat masyarakat hidup, bekerja, dan membangun ekonominya. Karena itu, pembelajaran tidak boleh berhenti di ruang kelas," pungkas Mardiyah.

Harapan Perubahan Perilaku Pascapelatihan

Kepala Seksi Wilayah III BPSKL Banjarbaru, Susanto, menaruh harapan besar pada perubahan perilaku pascapelatihan ini. Ia berharap kegiatan ini memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pengelolaan keuangan yang selama ini mungkin belum tercatat dengan baik.

"Harapannya kegiatan ini bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pengelolaan keuangan yang mungkin selama ini belum betul-betul tercatat. Semoga selain meningkatkan kapasitas mereka, kegiatan ini juga bisa makin memberikan kesadaran agar lebih peduli terhadap lingkungan hutan adatnya," ungkap Susanto.

Pilot Learning: Pelatihan Hanya Awal Proses Belajar

Bagi Hannah Asa Indonesia, perjalanan di Kalimantan Barat ini merupakan pilot learning experience. Lembaga ini menempatkan masyarakat adat bukan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai ruang refleksi bersama. Temuan, tantangan, dan cerita dari para peserta akan dikumpulkan sebagai bahan riset untuk menyempurnakan metode pendampingan di masa depan.

Setelah pelatihan usai, para perempuan adat itu pulang membawa catatan keuangan yang lebih rapi, rencana masa depan yang lebih terukur, dan komitmen yang lebih kuat untuk menjaga hutan adat—mulai dari pengelolaan keuangan di dalam rumah mereka sendiri.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: metrosulawesi.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top