KALIMANTAN BARAT — Keputusan mengejutkan Wolves memecat Rob Edwards pada awal musim lalu menjadi bahan pembicaraan hangat. Trippier, yang menyebut Edwards sebagai salah satu alasan utama dirinya mau turun kasta, tak menampik rasa terkejutnya. Namun, pemain berusia 34 tahun itu langsung meluruskan berbagai rumor yang beredar.
“Saya tidak akan berbohong, saya tidak menduganya,” ujar Trippier kepada media, mengutip pernyataannya yang dikutip dari laporan The Guardian. “Tapi itu keputusan klub. Saya sempat berbincang baik dengan Rob, tentu saja, tapi saya di sini untuk bermain untuk Wolves.” Isu Rumor "Robek Kontrak" Dibantah Tegas
Kepergian Edwards terjadi di tengah proses negosiasi dengan pelatih pengganti, César Peixoto. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Trippier ingin membatalkan kontraknya. Kabar tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh mantan pemain Timnas Inggris itu.
“Saya sudah membaca semuanya: bahwa saya ingin merobek kontrak saya, dan semua omong kosong itu,” tegas Trippier. “Saya justru menantikan hari pertama pramusim. Saya tidak tahu dari mana kabar itu berasal, tapi yang pasti bukan dari saya.” Kembali ke Championship Setelah 12 Tahun
Keputusan Trippier bergabung dengan Wolves menandai kembalinya ia ke divisi kedua Inggris untuk pertama kalinya sejak promosi bersama Burnley pada 2012. Kariernya sebelumnya gemilang di level tertinggi, termasuk menjuarai La Liga bersama Atlético Madrid dan tampil di final Liga Champions bersama Tottenham Hotspur.
Kini, tantangan berbeda menantinya. Ia sadar betul atmosfer Championship yang ia sebut "tanpa ampun" dan "sangat berbeda dengan Premier League". Pengalaman itu ia bagikan kepada rekan setimnya yang belum pernah merasakan kerasnya liga ini.
“Saya sudah memberi tahu mereka: liga ini tanpa ampun, karena memang seperti itu,” jelasnya. “Bermain tandang ke Lincoln akan menjadi laga yang sulit. Tapi mereka pemain bagus yang mau mendengarkan, seperti Tommy [Doyle] dan Adam [Armstrong].” Dinilai Berperan Besar di Newcastle
Meski kini berseragam Wolves, Trippier juga angkat bicara mengenai mantan klubnya, Newcastle United. Ia menilai kesuksesan The Magpies tak lepas dari peran pelatih Eddie Howe yang berhasil merekatkan kembali hubungan suporter dengan tim.
“Hal terpenting yang dia lakukan adalah menyambungkan kembali suporter dengan tim,” kenang Trippier. “Sebelum pengambilalihan, tempat itu tidak menyenangkan. Tapi dengan manajer baru, dia menyatukan semua orang, seperti yang dilakukan Gareth Southgate dengan Timnas Inggris.”
Ia juga menyinggung momen sulit di awal kariernya di Newcastle, termasuk kekalahan dari Cambridge United di Piala FA, yang justru menjadi titik balik kebangkitan tim.