KALIMANTAN BARAT — Anthropic mengumumkan bahwa model AI internalnya yang belum dirilis berhasil membuat kemajuan signifikan pada Hipotesis Riemann, salah satu masalah matematika paling sulit yang belum terpecahkan. Model tersebut secara signifikan meningkatkan batas bawah solusi yang terbukti benar untuk hipotesis yang pertama kali dirumuskan pada 1859 ini. Hasil riset ini telah diverifikasi oleh dua matematikawan internal Anthropic dan diformalkan menggunakan asisten pembuktian open source Lean.
Yang menarik dari pencapaian ini adalah prosesnya. Seorang staf Anthropic tanpa latar belakang matematika mendalam hanya meminta model untuk "mencoba sungguh-sungguh" membuktikan hipotesis tersebut, lalu membiarkan model bekerja mandiri selama 1,5 hari berikutnya. Model ini mengoordinasikan 60 subagen yang masing-masing memiliki peran spesifik dalam menyelesaikan masalah.
Dari 60 subagen tersebut, hanya dua yang berhasil mengembangkan ide matematika kunci. Tiga belas subagen lain berkontribusi pada ide-ide tersebut, 30 subagen mencoba namun gagal mengembangkan pendekatan baru, 13 subagen bertugas memvalidasi kebenaran argumen, dan dua subagen terakhir membantu menulis draf awal paper. Pembagian kerja ini menunjukkan bahwa AI mampu melakukan kolaborasi internal yang terstruktur dalam memecahkan masalah kompleks.
Keberhasilan ini bukan kasus terisolasi. Sepanjang tahun ini, model bahasa besar (LLM) telah memecahkan sejumlah masalah Erdos, dan perilisan model yang lebih kuat menghasilkan capaian yang lebih impresif. OpenAI baru-baru ini mengumumkan 10 hasil besar yang dibuktikan oleh model internal "Astra", sementara upaya terpisah dari Anthropic berhasil menyangkal konjektur Jacobian yang sudah lama berdiri.
Rentetan hasil ini memicu reaksi beragam di kalangan matematikawan. Pada Juni lalu, sekelompok matematikawan terkemuka menandatangani deklarasi publik yang menyuarakan kekhawatiran bahwa AI bisa menggerus nilai-nilai kritis di bidang ini—terutama standar bahwa bukti matematika harus "dapat diatribusikan kepada penulis spesifik yang mengambil kredit atas penemuan mereka dan bertanggung jawab atas kebenarannya."
Namun, komunitas matematika masih terpecah mengenai bagaimana menyikapi teknik riset baru ini. Dalam sebuah posting blog yang menanggapi deklarasi tersebut, peraih medali Fields Timothy Gowers mempertanyakan apakah pengaruh AI bisa mengubah matematika dengan cara yang lebih kompleks dan positif.
"Jika kita sampai pada dunia di mana teorema matematika tidak lagi dikaitkan dengan matematikawan, mungkin itu tidak akan lebih bermasalah daripada fakta bahwa bintang-bintang tidak dinamai menurut nama astronom dan kebanyakan tidak dinamai sama sekali," tulis Gowers. Pernyataan ini menggambarkan bahwa beberapa tokoh terkemuka melihat potensi transformasi ini sebagai evolusi alami, bukan ancaman.
Terobosan Anthropic ini juga membuka pertanyaan praktis: apakah AI dapat diandalkan untuk eksplorasi matematika murni yang selama ini dianggap membutuhkan intuisi manusia? Dengan 650 ide yang diuji dan 31 juta token yang dihasilkan dalam satu sesi, AI menunjukkan kapasitas eksplorasi yang tidak mungkin ditandingi manusia dalam waktu singkat. Namun, validasi akhir tetap bergantung pada matematikawan manusia dan alat formal seperti Lean.
Bagi pengamat teknologi, perkembangan ini menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat bantu komputasi, tetapi mulai berperan sebagai kolaborator intelektual. Meski Hipotesis Riemann belum sepenuhnya terbukti, fakta bahwa AI bisa mempersempit ruang masalahnya adalah sinyal bahwa batas kemampuan mesin dalam sains teoretis terus bergeser.