KALIMANTAN BARAT — Laporan terbaru Counterpoint Research mengonfirmasi apa yang sudah dikhawatirkan banyak pelaku industri: kelangkaan memori akhirnya benar-benar menggerus pasar PC global. Pada kuartal II 2026, total pengiriman PC mencapai sekitar 65 juta unit — turun 4% dibanding periode yang sama tahun 2025. Penurunan ini mengakhiri tren pertumbuhan yang bertahan sejak kuartal I 2025.
Menurut Counterpoint, biang keladi utama adalah meroketnya harga DRAM dan NAND flash. Lonjakan permintaan dari pusat data AI di seluruh dunia telah menyedot pasokan komponen memori, membuat pabrikan PC (OEM) terjepit. Sebagian besar memilih menaikkan harga jual ke konsumen daripada menyerap sendiri kenaikan biaya komponen.
“Kelangkaan memori bukan lagi masalah pasokan jangka pendek. Ini telah menjadi faktor kunci yang mengubah arah industri PC,” ujar David Naranjo, Associate Director di Counterpoint Research. Ia menambahkan bahwa pasar akan bergeser ke PC AI premium, karena fitur AI on-device membuat harga tinggi lebih mudah diterima.
Di tengah penurunan, dua merek justru mencatat kenaikan. ASUS menjadi satu-satunya pabrikan Windows yang tumbuh — naik 4% YoY. Sementara Lenovo, Dell, HP, dan merek lainnya ambles hingga 9%. Apple mencatat kinerja terbaik dengan lonjakan 13% berkat MacBook Neo yang terjangkau.
Segmen komersial (PC untuk bisnis) terbukti paling tahan banting, terbantu oleh migrasi massal dari Windows 10 ke Windows 11. Tanpa dorongan ini, angka penurunan global kemungkinan akan lebih parah.
Counterpoint memperkirakan harga komponen masih akan tinggi sepanjang paruh kedua 2026. Artinya, konsumen yang mencari laptop murah harus bersiap menghadapi kenaikan harga lebih lanjut. “OEM akan terus mendorong PC AI premium karena margin yang lebih besar,” jelas Naranjo.
Bagi yang PC lama-nya sudah tidak bisa diandalkan untuk dua tahun ke depan, saran analis cukup tegas: jangan menunggu harga murah. “Belilah lebih cepat meskipun harga sudah naik,” tulis Windows Central dalam liputannya, mengacu pada liputan sebelumnya tentang krisis RAM.
Proyeksi paling optimis sekalipun belum melihat kapan harga memori akan kembali ke level pra-krisis. Counterpoint dan IDC sama-sama memprediksi tekanan harga akan berlangsung setidaknya hingga akhir 2027. IDC bahkan sebelumnya meramal pengiriman PC global tahun 2026 bisa turun 11,3%, dengan kuartal IV anjlok hingga 20%.
Bagi konsumen Indonesia, situasi ini berarti pilihan laptop di segmen entry-level akan semakin sempit, sementara model premium dengan harga Rp 15 juta ke atas justru mendapat lebih banyak perhatian dari pabrikan.