JF3 Fashion Festival 2026 Pertemukan Desainer Muda Indonesia-Prancis, Eksplorasi Identitas Lewat Material Alternatif

Penulis: Alfin Murtado  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 22:39:01 WIB
Arron Bryan memamerkan koleksi "OPPOSITE: The Fallen Virtue" di JF3 Fashion Festival 2026, yang memanfaatkan limbah plastik sebagai aksesori.

KALIMANTAN BARAT — JF3 Fashion Festival 2026 membuka panggung bagi talenta muda untuk tidak sekadar mengikuti tren. Melalui program kolaborasi lintas negara, para desainer justru dihadapkan pada tantangan membalikkan narasi visual dan memanfaatkan limbah industri sebagai bahan baku.

Limbah Plastik dan Kenangan Keluarga Jadi Sumber Gagasan

Salah satu koleksi yang menjadi pembuka runway adalah karya Arron Bryan, desainer asal Jayapura. Koleksi bertajuk "OPPOSITE: The Fallen Virtue" terdiri dari empat look yang terinspirasi dari hiasan kepala pengantin karya Rinaldy Yunardi. Arron mengambil karakter black swan yang lebih gelap dan tegas sebagai kontras dari nuansa angsa putih dan gaya Art Nouveau pada karya referensinya.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadirkan karakter yang benar-benar berlawanan dari inspirasi awal. Tekstur, ide, dan konsep semuanya harus diputarbalikkan, tetapi tetap saling terhubung sehingga membentuk satu kesatuan cerita," jelas Arron di lokasi acara, Kamis (23/7).

Untuk memperkuat karakter koleksinya, Arron memadukan tweed, kain hitam pekat, dan tulle. Ia juga menggunakan aksesori buatan tangan yang memanfaatkan limbah plastik. Proses ini menjadi bagian dari eksplorasi material yang tidak konvensional.

Desainer Prancis Bawa Perspektif Female Gaze dan Material Dead Stock

Dari Prancis, Maurine Willebien menutup sesi PINTU Incubator dengan koleksi "Beauties" yang terdiri dari 10 look. Mengusung perspektif female gaze, Maurine mengubah elemen pakaian dalam menjadi pakaian luar. Teknik layering dan draping dilakukan langsung pada manekin untuk membentuk karakter koleksi.

Koleksi tersebut juga membawa perhatian pada isu keberlanjutan. Maurine memanfaatkan benang dari dead stock rumah mode ternama dan melakukan upcycling terhadap material vintage. Ia juga berkolaborasi dalam pembuatan tas menggunakan material Reishi, yaitu bahan berbasis miselium jamur. Seluruh koleksi dihadirkan dalam bentuk ready-to-wear.

Sementara itu, Aurélien Voegelin melalui label DAURIAC menghadirkan koleksi "3088". Angka tersebut merujuk pada nomor identifikasi sapi milik keluarganya. Memori masa kecil di lahan pertanian keluarga yang telah dikelola selama empat abad diterjemahkan ke dalam busana genderless dengan siluet dinamis. Fotografi arsip keluarga, teknik makrame, braiding, dan eksperimen tekstil digunakan untuk menggambarkan kehidupan pedesaan Prancis.

Kolaborasi Lintas Budaya untuk Memperkuat Ekosistem Mode Nasional

Paul Vidal, desainer Prancis lainnya, tampil dengan koleksi "Emballez-moi" (Wrap Me Up) yang terdiri dari enam look. Koleksi ini terinspirasi dari lukisan-lukisan Eropa abad ke-16 hingga ke-18. Paul membayangkan bagaimana tokoh-tokoh eksentrik dalam lukisan sejarah akan membungkus diri mereka jika hidup di masa kini. Gagasan tersebut diterjemahkan melalui perpaduan teknik tailoring yang tegas dengan draperi yang lebih lembut, serta eksperimen menggunakan terpal, plastik transparan, dan pita perekat usang.

Secara keseluruhan, sebanyak empat finalis Future Fashion Designer—Arron Bryan, Azzahra Najmanisa, Tashannie Abigail Loekman, dan Nabila Karimah—tampil bersama lima peserta PINTU Incubator, satu desainer dari program PINTU Akselerator, serta tiga lulusan École Duperré Paris.

JF3 Fashion Festival 2026 mengusung tema "Recrafted: Shaping the Future". Festival ini didukung oleh Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan BRImo. Pertemuan antara talenta Indonesia dan Prancis diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan membangun jejaring profesional di lingkup yang lebih luas.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top