PKSN XIII 2026 di Pontianak Dibuka dengan Tarian Dayak, Gereja Katolik Soroti Tantangan AI bagi Relasi Sosial Umat

Penulis: Zainul Arifin  •  Rabu, 27 Mei 2026 | 13:17:49 WIB
Tarian adat Dayak mengawali pembukaan PKSN XIII 2026 di Pontianak sebagai simbol kearifan lokal.

PONTIANAK — Pembukaan PKSN XIII 2026 di Kota Pontianak berlangsung semarak dengan sajian tarian adat Dayak, menandai perpaduan nilai budaya lokal dengan misi gereja dalam memperkuat relasi sosial. Acara yang digelar di Aula STKIP Pamane Talino ini dihadiri oleh para pastor, frater, suster, serta aktivis komunikasi dari berbagai keuskupan di Indonesia.

Komunikasi Humanis di Tengah Dominasi AI

Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dinilai mulai menggeser pola interaksi antarmanusia. Para pembicara mengingatkan agar teknologi tidak menggantikan peran komunikasi langsung yang bersifat personal dan humanis.

“Komunikasi harus menjadi alat yang menyatukan, bukan memisahkan. Di era AI, kita justru harus semakin sadar bahwa sentuhan manusiawi tidak bisa digantikan oleh algoritma,” ujar perwakilan panitia dalam sambutannya.

Mengapa Nuansa Budaya Dayak Menjadi Pembuka?

Pemilihan tarian Dayak sebagai pembuka bukan sekadar seremonial. Panitia sengaja mengangkat kearifan lokal untuk menunjukkan bahwa komunikasi sosial gereja tidak lepas dari akar budaya masyarakat setempat. Di Kalimantan Barat, hubungan antaragama dan antarsuku telah lama terjalin melalui tradisi dan kebersamaan.

Para peserta diajak untuk merefleksikan kembali esensi komunikasi sebagai jembatan, bukan tembok pemisah. Nilai-nilai gotong royong dan musyawarah yang hidup di masyarakat Dayak dinilai relevan untuk diadopsi dalam pelayanan pastoral.

Apa yang Dibahas Selama PKSN XIII 2026?

Selain sesi diskusi tentang AI dan etika komunikasi, forum ini juga membahas strategi literasi digital bagi umat. Gereja Katolik mendorong agar umat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menyaring dan menyebarkan pesan-pesan yang membangun.

Beberapa keuskupan melaporkan bahwa tantangan hoaks dan ujaran kebencian di media sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Oleh karena itu, PKSN XIII 2026 diharapkan melahirkan rekomendasi konkret untuk penguatan komunikasi di tingkat paroki dan komunitas basis.

Tindak Lanjut: Membangun Jaringan Komunikator Lintas Daerah

Ke depan, panitia menargetkan terbentuknya jaringan komunikator sosial yang solid di setiap keuskupan. Hal ini penting agar pesan-pesan gereja tentang perdamaian dan persaudaraan bisa menjangkau lebih banyak umat, terutama di daerah terpencil.

PKSN XIII 2026 akan berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian workshop, diskusi panel, dan pentas seni. Acara ini menjadi ajang tahunan bagi para pegiat komunikasi sosial Katolik untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: pontianakpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top