KALIMANTAN BARAT — Museum Kebangkitan Nasional bukan sekadar gedung bersejarah tempat lahirnya organisasi Budi Utomo. Di salah satu ruangnya, aktivitas berbeda berlangsung setiap pekan. Anak-anak dan remaja menari, berlatih gerak, dan perlahan membangun rasa percaya diri.
Kelas tari ini tidak memungut biaya. Pesertanya beragam, mulai dari anak usia sekolah dasar hingga remaja, termasuk mereka yang menyandang disabilitas. Siapa pun yang ingin belajar seni tradisional bisa bergabung.
Cerita Ayesha: Sepuluh Tahun Menari, dari Malu Jadi Berani
Ayesha sudah mengikuti kelas ini sejak duduk di kelas 1 SD. Kini usianya 17 tahun. Artinya, sekitar sepuluh tahun ia belajar tari di Museum Kebangkitan Nasional.
Alasannya sederhana. Ayesha ingin mengembangkan diri sekaligus ikut menjaga seni dan budaya tradisional yang disukainya.
"Karena diri aku yang ingin ngembangin seni dan budaya. Terus aku join di sini udah lama. Jadi aku ingin ngembangin diri kalau seni itu indah loh," kata Ayesha kepada detikTravel, Minggu (6/9/2026).
Selama mengikuti kelas, Ayesha mendapat banyak pengalaman tampil. Ia pernah terlibat dalam sejumlah pertunjukan besar, seperti Asian Games, rekor MURI Swarna Biru, hingga Culture Beyond Borders.
Pengalaman itu mengubah dirinya. Dulu, Ayesha bukan anak yang percaya diri ketika harus tampil di depan orang banyak.
"Aku dari kecil awalnya nggak pede, terus setelah ngikut ini aku lebih percaya diri," ujar dia.
Nayla, Peserta Difabel yang Kini Berani Naik Panggung
Cerita berbeda datang dari Nayla, penyandang disabilitas tunagrahita. Sang ibu mengetahui kelas tersebut dari seorang teman. Sekitar delapan tahun lalu, ia membawa Nayla untuk mencoba.
Ternyata menari menjadi aktivitas yang membuat Nayla nyaman. Bakat yang sebelumnya belum terlihat justru tersalurkan di sini.
"Nayla ini ternyata bakat yang terpendam itu langsung tersalurkan di sini," ujar sang ibu.
Seiring waktu, Nayla semakin berani mengikuti gerakan penari lain yang lebih senior. Ketika menari, ekspresi bahagia Nayla terlihat jelas.
Salah satu tarian yang paling disukai Nayla adalah tari Kembang Jatoh Betawi. Ia juga pernah membawakan tari Ondel-Ondel dan bahkan dipercaya maju ke depan membantu mengajarkan gerakan.
Perubahan besar terjadi. Dari yang sebelumnya malu bertemu orang dan tidak berani tampil, Nayla kini berani naik ke panggung. Ia pernah tampil di Balai Sarbini, AEON Mall, dan Margo City.
Apa yang Bisa Dipelajari di Kelas Ini
Kelas tari di Museum Kebangkitan Nasional terbuka bagi berbagai usia dan peserta difabel. Program ini tidak dipungut biaya dan menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin belajar seni tradisional.
Materi yang diajarkan mencakup tari Betawi seperti Kembang Jatoh dan Ondel-Ondel. Peserta tidak dituntut cepat menguasai gerakan. Proses yang tumbuh justru lebih penting: kepercayaan diri, keberanian, dan rasa senang ketika tampil.
Tips Berkunjung bagi Traveler
Museum Kebangkitan Nasional berlokasi di Jalan Abdul Rahman Saleh, Senen, Jakarta Pusat. Kawasan ini mudah dijangkau dengan KRL Commuter Line lewat Stasiun Pasar Senen, lalu dilanjutkan jalan kaki atau ojek online singkat.
Jika ingin menyaksikan langsung aktivitas kelas tari, datanglah pada hari Minggu. Jadwal kelas tari biasanya berlangsung pada akhir pekan, meski jadwal pasti dapat berubah. Informasi terkini bisa dikonfirmasi langsung ke pihak museum atau dinas pariwisata setempat.
Untuk kunjungan ke museum, kenakan pakaian nyaman dan sopan. Bawa air minum karena area cukup luas untuk dijelajahi. Jika ingin ikut mencoba kelas tari, sebaiknya hubungi pengelola terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kuota.
Kombinasi Wisata Sejarah dan Budaya
Mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional bisa jadi agenda setengah hari yang padat. Setelah menyusuri ruang pameran sejarah pergerakan nasional, traveler bisa duduk sebentar dan menyaksikan latihan tari.
Durasi ideal kunjungan sekitar dua hingga tiga jam. Waktu ini cukup untuk menjelajahi koleksi museum sekaligus menonton atau ikut serta dalam kelas tari.