PONTIANAK — Sebanyak 400 pengurus lembaga keagamaan di Pontianak mengikuti pembinaan yang digelar Pemerintah Kota setempat, Senin. Kegiatan ini menyasar penguatan literasi digital dan toleransi antarumat beragama di tengah derasnya arus informasi.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono membuka langsung acara tersebut. Ia menilai kemampuan menyaring informasi menjadi kebutuhan mendesak bagi pengurus agama yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Media Sosial: Ruang Pencerahan atau Sumber Perpecahan?
Edi mengingatkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan warga. Platform digital, menurut dia, bisa menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus pemicu kesalahpahaman bila tidak digunakan secara bijak.
"Media sosial ini rawan juga, tetapi kadang-kadang juga bisa menjadi ruang pencerahan. Karena itu perlu kedewasaan, wawasan, dan logika berpikir," katanya.
Wali Kota menegaskan bahwa literasi menjadi tameng utama bagi masyarakat agar tidak mudah terpancing isu yang dapat memecah belah kerukunan. Menurut dia, kedewasaan berpikir diperlukan saat informasi bergerak sangat cepat.
Pancasila dan Kitab Suci Jadi Pegangan Bersama
Dalam kehidupan beragama, Edi mengajak warga kembali kepada nilai-nilai dasar yang menjadi pegangan bersama. Bagi umat Islam, Al Quran dan hadis menjadi pedoman utama, sementara Pancasila berfungsi sebagai dasar bermasyarakat dan berbangsa.
Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen memberikan ruang bagi seluruh warga untuk menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Kebebasan beragama, kata Edi, harus dijaga lewat literasi, toleransi, dan komunikasi yang baik.
"Pemerintah Kota Pontianak berupaya selalu memberikan ruang kebebasan beragama. Kuncinya adalah literasi, toleransi, dan bagaimana kita menjadikan kota ini harmonis, aman, sejahtera, serta tenang dalam beribadah," ujarnya.
Moderasi Beragama Kunci Wujudkan Kota Bersahabat
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak Ruslan mengajak lembaga keagamaan memperkuat pembinaan umat dengan semangat toleransi dan moderasi beragama. Hal ini sejalan dengan visi kota yang bersahabat.
"Sesuai dengan visi yang diusung Wali Kota Pontianak, yaitu mewujudkan Kota Pontianak sebagai kota yang bersahabat, maka dalam pembinaan keagamaan yang kita kedepankan adalah semangat toleransi dan moderasi beragama," kata dia.
Ruslan menambahkan, moderasi beragama menjadi kunci menjaga suasana kota tetap aman dan damai. Kerukunan antarumat yang kuat akan menjadi modal penting dalam melaksanakan pembangunan daerah.
"Ini kunci untuk melaksanakan pembangunan. Jika Kota Pontianak tidak aman dan damai, tentu sulit mewujudkan pembangunan, baik lahir maupun batin," tuturnya.