KALIMANTAN BARAT — Pernyataan Jokowi itu disampaikan di hadapan jemaah Ponpes Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026). Dalam pidatonya, ia mengutip filosofi Jawa: lamun siro sekti ojo mateni (jika sakti jangan membunuh) dan lamun siro pinter ojo minteri (jika pintar jangan membodohi). Pesan ini, menurut Khozinudin, tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik kekuasaan saat ini.
Alasan Tafsir Mengarah ke Prabowo
Ahmad Khozinudin, pengamat politik yang kerap mengomentari isu kepresidenan, menilai ungkapan Jokowi tentang ngendikan banter—berbicara keras—hampir mustahil ditujukan kepada pejabat level bawah. "Secara kontekstual, narasi tersebut mengarah pada retorika publik Presiden Prabowo Subianto yang kerap dikenal blak-blakan, berapi-api, serta berkarakter tegas saat berpidato di depan publik," kata dia, dikutip Senin (31/8/2026).
Khozinudin juga menyoroti posisi Jokowi yang seolah memberi wejangan tentang penggunaan kekuasaan. Namun ia mengingatkan bahwa publik masih merekam berbagai peristiwa penegakan hukum selama periode 2014–2024 yang dinilai bertolak belakang dengan pesan itu.
Rekam Jejak yang Dikontraskan
Dalam paparannya, Khozinudin menyebut sejumlah kasus yang menurutnya menjadi bumerang bagi Jokowi. Ia menyinggung ketidakjelasan pengusutan wafatnya ratusan petugas KPPS pada Pemilu 2019, Tragedi Kanjuruhan, hingga bentrokan KM 50 yang menewaskan anggota Laskar FPI. Ia juga mengangkat kebijakan pencabutan status hukum HTI dan FPI, yang dipandangnya sebagai bentuk 'mematikan' hak berserikat lewat instrumen regulasi.
Selain itu, istilah ojo minteri dikaitkan dengan sejumlah kebijakan yang dianggap membingungkan publik. Khozinudin mencontohkan perdebatan 'mudik' versus 'pulang kampung' saat pandemi, serta polemik izin ekspor hasil sedimentasi laut yang oleh pemerintah tidak disebut sebagai ekspor pasir.
Kritik yang Berbalik: Ngunduh Wohing Pakerti
Khozinudin kemudian menarik benang merah ketegangan antara Jokowi dan lingkaran kekuasaan saat ini. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai ngunduh wohing pakerti—seseorang memanen hasil dari apa yang ditanam. Menurutnya, Prabowo yang sempat menempatkan Jokowi sebagai guru politik kini hanya mereplikasi taktik dan gaya pragmatis yang dipelajari selama transisi kekuasaan.
"Apa yang dialami hari ini adalah buah dari realitas politik represi dan pragmatisme yang dipraktikkan sendiri di masa lalu," ujarnya.
Pidato Jokowi dan tafsir Khozinudin ini memicu perdebatan di ruang publik. Sejauh ini, baik Istana maupun Prabowo belum menanggapi secara resmi. Diskusi mengenai etika kekuasaan dan gaya kepemimpinan pun kembali mengemuka di tengah masa transisi pemerintahan.