KALIMANTAN BARAT — Setelah mundur dari bisnis smartphone yang pernah membesarkan namanya, BlackBerry kini menaruh harapan besar pada QNX, perangkat lunak yang selama ini dikenal sebagai sistem operasi kritis di industri otomotif. Perusahaan melaporkan bahwa robotika telah menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di dalam portofolio QNX.
QNX sendiri telah tertanam di 275 juta kendaraan di seluruh dunia, mengelola fungsi-fungsi penting seperti sistem pengereman hingga teknologi mengemudi semi otonom. Kini, teknologi yang sama tengah diarahkan untuk menjangkau area industri yang lebih luas.
Fokus pada Robot Industri, Bukan Humanoid
CEO BlackBerry John Giamatteo menegaskan bahwa pihaknya tidak tertarik mengejar tren robot humanoid yang belakangan ramai dikembangkan di China. Perusahaan justru melihat peluang lebih besar pada robot yang beroperasi di lingkungan industri.
"Kami rasa ini bisa menjadi segmen industri dengan pertumbuhan yang lebih cepat untuk hal-hal seperti robotika," ujar Giamatteo kepada CNBC. Target pasar yang dimaksud mencakup robot untuk gudang, forklift robotik, hingga instrumen di bidang medis.
Menurut Giamatteo, aplikasi robotika dan otomatisasi industri ini membuka peluang pertumbuhan yang signifikan di luar dinamika bisnis otomotif yang sudah mapan. "BlackBerry beserta portofolio QNX berada di posisi sangat tepat untuk memanfaatkannya," tambahnya.
Kemitraan dengan Nvidia dan Prospek AI Fisik
Untuk memperkuat posisinya, BlackBerry telah memperluas kemitraan dengan Nvidia sejak April lalu. Kolaborasi ini bertujuan mengimplementasikan perangkat lunak QNX bersama sistem Nvidia di sektor robotika, teknologi medis, dan aplikasi industri.
Generasi robot terbaru saat ini menggabungkan hardware khusus dengan model kecerdasan buatan dan berbagai software pendukung. Area inilah yang kerap disebut sebagai contoh AI fisik, dan BlackBerry menilai pengalaman panjangnya di sektor otomotif memberikan keunggulan kompetitif.
Kinerja Saham dan Prospek Ke Depan
Optimisme pasar terhadap transformasi bisnis ini tercermin dari harga saham BlackBerry yang melonjak dua kali lipat sepanjang tahun ini. Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya margin dan profitabilitas perusahaan di tengah pergeseran fokus bisnisnya.
Dengan tumpukan pesanan QNX yang mencapai USD 950 juta, perusahaan optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan. "Robotika akan bertransformasi secara masif dan kami sangat antusias menyambut peluang yang ada di depan mata kami," pungkas Giamatteo.
Langkah BlackBerry ini menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan yang pernah mendominasi industri ponsel mampu bertransformasi menjadi pemain penting di balik layar ekosistem kendaraan modern dan otomatisasi industri. Bagi pelaku bisnis digital di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati mengingat adopsi otomasi dan kendaraan listrik di pasar lokal terus meningkat.