KALIMANTAN BARAT — Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan dua perusahaan dengan inisial J dan S itu sudah dalam tahap diskusi awal pemindahan produksi. "Di daerah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ada dua perusahaan, saya belum bisa sebut nama perusahaannya. Dua perusahaan raksasa komponen otomotif. Itu bisa ribuan karyawannya akan terdampak PHK," ujar Iqbal dalam konferensi pers, Selasa (23/6).
Insentif EV Vietnam Lebih Kompetitif Dibanding RI
Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, menilai perpindahan ini merupakan strategi global perusahaan dalam menyongsong transisi bisnis ke elektrifikasi. Menurutnya, Vietnam dinilai lebih mapan dan produktif dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. "Untuk mencegah industri otomotif semakin banyak yang hengkang ke depan, pemerintah perlu mempercepat penyempurnaan arah kebijakan dan insentif EV yang konsisten, kompetitif terkait penguatan ekosistem komponen dalam negeri," ujar Yannes kepada detikOto.
Ribuan Pekerja Terdampak PHK Massal
Dampak paling konkret dari keputusan ini adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Said Iqbal menyebut jumlah pekerja yang terdampak bisa mencapai ribuan orang, namun dirinya belum bisa merinci angka pastinya. "Jadi prinsipalnya di Jepang, akan memindahkan produksinya ke negara-negara yang lebih produktif dan mengubah diversifikasi produknya. Jadi mereka akan berfokus di mobil listrik yang pengembangannya dilakukan di Vietnam, bukan di Indonesia," tuturnya.
Pemerintah Diminta Segera Benahi Ekosistem EV
Yannes menambahkan, selain insentif fiskal, program reskilling tenaga kerja untuk teknologi kendaraan listrik juga mendesak dilakukan. "Selain itu, program reskilling tenaga kerja untuk teknologi EV juga penting agar Indonesia tetap menjadi lokasi produksi yang menarik di kawasan ASEAN," tambahnya. Tanpa langkah konkret, bukan tidak mungkin relokasi pabrik serupa akan terus berulang, mengingat industri otomotif global telah bergeser dari konvensional ke elektrifikasi.
Said Iqbal menegaskan, dua perusahaan tersebut memilih cabut ke Vietnam karena negara tersebut memiliki kebijakan pengembangan pabrik mobil listrik yang lebih produktif. "Karena di Indonesia rupanya mobil listrik, pabrik mobil listrik tidak kompetitif. Tapi di Vietnam sedang ada kebijakan pengembangan pabrik mobil listrik," kata dia menambahkan. Pemerintah pusat kini didesak untuk segera mengambil sikap agar industri komponen otomotif dalam negeri tidak terus kehilangan investasi.