KALIMANTAN BARAT — Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan Jetour dalam konferensi pers beberapa waktu lalu. Meskipun biaya impor komponen membengkak akibat kurs, pabrikan asal China ini memilih menyerap selisih biaya ketimbang membebankannya ke konsumen.
Mengapa Harga T2 Tidak Ikut Naik?
Pelemahan rupiah biasanya langsung berdampak pada harga jual mobil impor utuh (CBU) seperti T2. Namun, Jetour mengambil langkah berbeda. Alasan utamanya adalah menjaga posisi kompetitif T2 di segmen SUV medium yang semakin ketat.
“Kami memahami kondisi ekonomi saat ini. Menahan harga adalah bentuk komitmen kami kepada pelanggan setia,” ujar perwakilan Jetour dalam kesempatan yang sama. Strategi ini juga dinilai sebagai upaya mempertahankan volume penjualan di tengah perlambatan pasar otomotif nasional.
Dampak ke Konsumen dan Pasar
Keputusan ini tentu menjadi angin segar bagi calon pembeli T2. Dengan harga yang tetap, nilai T2 sebagai SUV berfitur lengkap masih terasa kompetitif. Beberapa pesaing di kelasnya justru sudah menyesuaikan harga jualnya beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, langkah Jetour juga bisa memicu perang harga tidak langsung di segmen yang sama. Konsumen kini punya lebih banyak opsi dengan anggaran yang sama tanpa harus khawatir harga melonjak tiba-tiba.
Spesifikasi Singkat Jetour T2
- Model SUV medium dengan desain kokoh dan ground clearance tinggi
- Ditenagai mesin bensin turbo 1.6 liter
- Transmisi DCT 7-percepatan
- Fitur unggulan: panoramic sunroof, head-up display, dan kamera 360 derajat
- Harga mulai Rp 400 jutaan (OTR Jakarta, tergantung varian)
Jetour T2 sendiri merupakan salah satu model yang cukup agresif dalam menawarkan fitur premium di kelasnya. Dengan harga yang tidak berubah, posisinya sebagai SUV bernilai tinggi kian kuat di mata konsumen Indonesia.