PONTIANAK — Okupansi hotel berbintang dan non-bintang di Pontianak menyentuh angka 90 persen sejak awal pekan ini. Angka itu naik signifikan dibandingkan akhir pekan biasa yang hanya berkisar 50 hingga 60 persen.
Penyebab Lonjakan: Dua Negara Libur Bersamaan
Fenomena ini terjadi karena libur panjang bertepatan dengan hari libur nasional di Indonesia dan cuti bersama di Malaysia. Banyak warga negara Malaysia, khususnya dari Kuching dan kota-kota lain di Serawak, memilih Pontianak sebagai destinasi singkat karena jarak tempuh yang dekat.
“Mereka datang untuk belanja, wisata kuliner, dan sekadar beristirahat. Pontianak sudah seperti tujuan favorit untuk liburan singkat warga Malaysia,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Barat, Yohanes Sutopo, dalam keterangannya, Senin (20/1).
Hotel Bintang Tiga Paling Diburu, Kamar Ekonomis Ludes
Data PHRI Kalbar menunjukkan, hotel bintang tiga dan hotel melati di pusat kota menjadi yang paling banyak dipesan. Kamar-kamar di segmen harga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per malam habis dipesan sejak tiga hari sebelum libur panjang dimulai.
Para pelancong Malaysia biasanya menginap selama dua hingga tiga malam. Mereka juga tercatat aktif berbelanja di pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional seperti Pasar Sudirman.
Dampak Ekonomi: Omzet Hotel dan UMKM Ikut Naik
Lonjakan hunian ini berdampak langsung pada peningkatan omzet hotel. Yohanes memperkirakan pendapatan sektor perhotelan di Pontianak naik hingga 30 persen selama periode libur panjang. Tak hanya hotel, pelaku UMKM kuliner dan oleh-oleh khas Pontianak juga menikmati berkah.
“Peningkatan wisatawan Malaysia selalu berdampak langsung ke penjualan kue khas, kopi, dan kain tenun. Ini menjadi momentum penting bagi ekonomi lokal,” tambahnya.
Proyeksi ke Depan: Potensi Berulang Setiap Libur Panjang
PHRI Kalbar optimistis tren ini akan berulang pada libur panjang berikutnya. Mereka mendorong pemerintah kota untuk terus mempromosikan Pontianak sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner lintas batas. Peningkatan infrastruktur bandara dan jalur darat ke perbatasan dinilai kunci untuk mempertahankan minat wisatawan Malaysia. Pemerintah Kota Pontianak sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah antisipasi lonjakan serupa di masa mendatang.