Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal, mengatakan penguatan mental menjadi prioritas agar persoalan yang viral di media sosial tidak mengganggu perkembangan psikologis peserta didik. Ia menyebut dampak polemik dirasakan oleh siswa dari kedua sekolah.
Dampak Polemik ke Siswa SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak
Menurut Faisal, siswa SMAN 1 Sambas menjadi sasaran kemarahan warganet terkait hasil lomba. Sementara itu, SMAN 1 Pontianak juga berada dalam situasi sulit karena mencari kejelasan atas apa yang mereka alami.
“Saya melihat kalau ini dibiarkan akan berdampak tidak baik terhadap perkembangan mental dan psikis anak-anak, baik di SMAN 1 Sambas maupun SMAN 1 Pontianak,” ujar Faisal di Pontianak, belum lama ini.
Peran Guru BK Jadi Tempat Curhat Siswa
Faisal menekankan bahwa guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas harus menjadi ruang aman bagi siswa. Mereka diminta aktif mendengar keluh kesah dan membantu siswa menghadapi tekanan akibat pemberitaan serta komentar negatif di media sosial.
“Guru wali dan guru BK inilah yang nantinya menjadi tempat curhat mereka, membimbing mereka, mengingatkan mereka, dan menguatkan mental mereka, termasuk juga peran kepala sekolah,” kata Faisal.
Pendampingan ini dinilai krusial, terutama bagi siswa SMAN 1 Sambas yang tengah mempersiapkan diri menghadapi LCC 4 Pilar MPR RI tingkat nasional pada 18 Agustus mendatang.
Tidak Ada Konflik Antarsekolah
Faisal membantah adanya perselisihan antara SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak. Ia menegaskan kedua sekolah sama-sama menjadi pihak yang terdampak oleh polemik hasil lomba.
“Kita buktikan bahwa sebenarnya mereka tidak berselisih. SMAN 1 Pontianak sedang mencari kejelasan terkait apa yang mereka alami, sementara SMAN 1 Sambas juga menerima dampak yang kurang baik,” pungkasnya.
Disdikbud Kalbar berharap langkah pendampingan ini dapat memulihkan kondisi psikis siswa dan memastikan persiapan lomba tingkat nasional berjalan tanpa gangguan.