PONTIANAK — Anggota Dewan Pendidikan Komite Pendidikan Menengah Kalbar, Yudi Dharma, menegaskan bahwa akar permasalahan dalam ajang LCC 4 Pilar bukan hanya soal benar-salahnya hasil akhir. Ia menilai persoalan ini telah menyentuh marwah dunia pendidikan.
"Dalam sebuah kompetisi besar, terutama di ajang pendidikan, tentu kompetisi itu tidak serta-merta hanya bicara tentang sebatas menang dan kalah. Tapi lebih dari itu, pendidikan harus tetap menjaga marwahnya tentang prinsip kebenaran, keadilan, suportivitas, dan termasuk mengembangkan karakter serta nilai-nilai mentalitas," ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Bukan Soal Menang-Kalah, Tapi Marwah Pendidikan
Menurut Yudi, peserta didik yang mengikuti kompetisi tidak hanya diuji kecerdasannya. Lebih dari itu, mereka belajar tentang etika, sportivitas, dan keberanian menyuarakan kebenaran.
"Anak-anak atau peserta didik itu bukan hanya sekadar mengikuti kompetisi lalu diuji kecerdasannya. Tapi lebih dari itu, mereka belajar tentang suportivitas, etika, bagaimana menyuarakan kebenaran, serta menghargai setiap perbedaan," katanya.
Yudi juga menolak anggapan bahwa peserta atau pihak sekolah yang mempertanyakan hasil keputusan lomba adalah bentuk perlawanan. Sebaliknya, langkah itu ia nilai sebagai upaya menjaga marwah pendidikan.
"Ketika ada peserta, bahkan pihak sekolah yang menyampaikan terkait hasil keputusan, tentu tidak otomatis itu sebuah perlawanan. Tapi justru upaya mereka untuk menjaga marwah pendidikan, bahwa kebenaran tetap ditegakkan dan keadilan harus berdiri sebagai fondasi utama dalam sektor pendidikan," tegasnya.
Jangan Saling Menyudutkan, Jadikan Refleksi Bersama
Yudi mengingatkan agar polemik yang viral di media sosial tidak dimanfaatkan untuk saling menyudutkan. Situasi ini, kata dia, justru harus menjadi refleksi bersama untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan kompetisi pendidikan ke depan.
"Kami ingin mengajak seluruh pihak untuk tidak membangun narasi yang menyudutkan maupun memperkeruh polemik. Justru kondisi viral ini harus menjadi momentum refleksi agar ke depan setiap kompetisi lebih suportif, menjunjung tinggi keadilan, kebenaran, akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme," ujarnya.
Transparansi Digital: Solusi Agar Polemik Tak Terulang
Salah satu sorotan utama Dewan Pendidikan adalah soal adaptasi teknologi. Yudi menilai penyelenggara kegiatan perlu memanfaatkan siaran langsung dan rekaman sebagai bentuk transparansi proses perlombaan.
"Kalau seandainya ini disiarkan secara live, bahkan ada recording-nya, ketika nanti dilihat dan terbukti siapa yang benar, tentu itu menjadi pembelajaran penting bagi penyelenggara," katanya.
Ia menambahkan, profesionalisme dalam sebuah kompetisi tidak cukup hanya diukur dari sisi administrasi. Pelaksanaan kegiatan harus berjalan secara terbuka, akuntabel, dan humanis.
"Profesionalitas itu bukan hanya soal ketertiban administrasi, tetapi juga bagaimana penyelenggaraan kompetisi berjalan profesional, akuntabel, transparan, dan humanis," pungkasnya.