SANGGAU — Penelitian kolaborasi IAIN Pontianak dan STAKat Negeri Pontianak menyoroti bagaimana masyarakat Kabupaten Sanggau menjalankan kehidupan beragama yang berdampingan. Hasil observasi dan wawancara tim peneliti dipaparkan dalam FGD yang dihadiri perwakilan Pemkab Sanggau, Kesbangpol, Kementerian Agama, TNI-Polri, FKUB, serta sejumlah organisasi keagamaan.
Policy brief yang disusun tim peneliti menyebut Sanggau punya citra sebagai daerah yang menjunjung tinggi kehidupan beragama. Indikatornya terlihat dari rumah-rumah ibadah yang berdiri berdampingan di tengah permukiman warga.
Tim peneliti menyoroti sejumlah praktik sosial yang dinilai mencerminkan nilai kemanusiaan. Salah satunya yayasan sosial yang melayani masyarakat tanpa membedakan agama maupun suku.
Contoh lain yang diangkat adalah pemadam kebakaran komunitas Tionghoa yang selama ini turut membantu warga lintas agama dan etnis. Ada pula yayasan pendidikan berbasis agama yang menerima peserta didik dari berbagai latar belakang keyakinan.
“Gambaran tersebut menunjukkan adanya praktik kehidupan sosial yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap keberagaman di Kabupaten Sanggau,” demikian substansi yang dipaparkan dalam policy brief tim peneliti.
FGD juga mencatat tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah potensi intoleransi yang dipengaruhi penggunaan media sosial.
Menurut tim peneliti, situasi intoleransi yang terjadi di luar Kabupaten Sanggau berpotensi memengaruhi masyarakat setempat jika informasi tersebut diterima tanpa sikap kritis. Peserta forum menilai edukasi penggunaan media sosial perlu diperluas.
Edukasi itu tidak hanya ditujukan kepada generasi muda, tetapi juga kepada orang tua. Penggunaan media sosial dinilai perlu disikapi bijaksana, terutama saat menyaring informasi yang berpotensi memicu kesalahpahaman, konflik, maupun intoleransi.
Dalam forum tersebut, pemerintah diharapkan memiliki langkah pengamanan dan antisipasi terhadap potensi gangguan kerukunan masyarakat akibat penyebaran informasi di media sosial.
FGD ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Forum ini diharapkan menjadi ruang memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menjaga kehidupan beragama yang harmonis serta merawat toleransi dan nilai-nilai kemanusiaan di Kabupaten Sanggau.