BANYUWANGI — Stasiun Ketapang menorehkan rekor baru pergerakan penumpang. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 553.202 aktivitas pelanggan, melonjak 99,05 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022 yang hanya mencatat 277.928 orang.
Kenaikan ini berkelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, volume penumpang mencapai 388.193 orang, lalu bertambah menjadi 449.867 pelanggan pada 2024.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, pertumbuhan ini tidak lepas dari peran historis stasiun yang terus bertransformasi. Awalnya dibangun untuk mendukung arus perdagangan, kini Stasiun Ketapang menjadi penghubung utama wisatawan menuju Banyuwangi dan Pulau Bali.
"Stasiun Ketapang memiliki cerita panjang sejak kereta api mencapai Banyuwangi lebih dari satu abad lalu. Perjalanannya menggambarkan perubahan peran kereta api, dari mendukung aktivitas perdagangan hingga menjadi penghubung perjalanan masyarakat menuju Banyuwangi dan Bali," ujar Anne dalam keterangan resmi, Rabu (9/9/2026).
Sejarah perkeretaapian di ujung timur Jawa ini dimulai lebih dari satu abad lalu. Pembangunan lintas Mrawan menuju Banyuwangi sepanjang 58 kilometer diprakarsai perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS) dan resmi beroperasi pada 2 Februari 1903.
Kala itu, Stasiun Banyuwangi lama terhubung langsung dengan Pelabuhan Boom untuk melayani arus perdagangan laut. Pada 1926, sebanyak 12 perjalanan kereta api melayani rute Kalibaru serta Kalisat menuju Banyuwangi.
Perubahan besar terjadi ketika pusat aktivitas pelabuhan dipindahkan dari Pelabuhan Boom ke Ketapang pada 1 Januari 1974. Jalur rel Kabat menuju Banyuwangi Baru kemudian mulai beroperasi pada 7 September 1985, menghubungkan kawasan penyeberangan.
Stasiun Banyuwangi Lama resmi dinonaktifkan pada 31 Maret 1988. Stasiun penggantinya kemudian berganti nama menjadi Stasiun Ketapang pada 2019.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menambahkan, lokasi stasiun yang berdekatan dengan pelabuhan menjadi nilai strategis utama. Hal ini mempermudah masyarakat yang hendak melanjutkan perjalanan menyeberang ke Bali.
"Perjalanan Stasiun Ketapang menjadi bagian dari cerita panjang perkeretaapian Indonesia. Dari stasiun yang dahulu mendukung aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom hingga menjadi simpul mobilitas masyarakat saat ini, setiap perkembangan kawasan ikut membentuk perjalanan stasiun ini," ucap Wisnu.
Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Stasiun Ketapang diproyeksikan terus menjadi tulang punggung konektivitas menuju kawasan wisata alam dan budaya di ujung timur Pulau Jawa.