DHA untuk Otak Anak Usia Sekolah: Panduan dan Sumber Asupannya

Penulis: Wisnu Wardana  •  Selasa, 08 September 2026 | 14:20:31 WIB
Seorang anak sekolah menikmati segelas susu cokelat sebagai bagian dari asupan nutrisi hariannya.

KALIMANTAN BARAT — Masa sekolah adalah periode emas bagi perkembangan kognitif anak. Di fase ini, mereka tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga mengasah kemampuan memecahkan masalah dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Fondasi yang kuat sangat diperlukan, dan salah satu kuncinya adalah asupan nutrisi yang tepat, khususnya untuk mendukung fungsi otak.

Apa itu DHA dan Mengapa Penting untuk Anak?

DHA (Docosahexaenoic Acid) adalah asam lemak omega-3 yang menjadi komponen struktural utama pada jaringan otak dan retina mata. Nutrisi ini berperan vital dalam menjaga kesehatan membran sel, terutama sel-sel pada sistem saraf.

Seiring bertambahnya usia, otak anak terus berkembang pesat. Kebutuhan akan asupan nutrisi pendukung, termasuk omega-3, menjadi semakin relevan. Pada usia sekolah, anak membutuhkan dukungan ekstra untuk berkonsentrasi, menerima informasi baru, dan mengembangkan kemampuan akademis maupun sosialnya.

Angka Kecukupan DHA yang Masih Menjadi Tantangan

Sayangnya, pemenuhan DHA masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi orang tua di Indonesia. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada 2016 mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan: 8 dari 10 anak Indonesia berusia 4–12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah standar minimum yang direkomendasikan oleh FAO/WHO.

Temuan ini menegaskan bahwa perhatian khusus terhadap sumber omega-3 dalam pola makan harian anak sangatlah penting. Jangan sampai anak kenyang, tetapi kebutuhan nutrisi otaknya tidak terpenuhi secara optimal.

Kendala Selera Anak dan Solusi Praktisnya

Memenuhi kebutuhan nutrisi anak memang tidak selalu mudah. Seiring bertambahnya usia, anak-anak cenderung semakin selektif terhadap makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Preferensi rasa yang kuat seringkali menjadi penghalang utama.

Fenomena ini didukung oleh penelitian dari Universitas Gadjah Mada pada 2015. Studi terhadap siswa SD dan SMP di Purbalingga menunjukkan adanya kecenderungan penolakan terhadap susu plain, dengan persentase penolakan mencapai 53 persen pada siswa SD dan 39,5 persen pada siswa SMP. Sementara itu, penelitian dari Universitas Negeri Surabaya pada 2016 menemukan bahwa rasa cokelat menjadi favorit, dipilih oleh 52,7 persen siswa sekolah dasar yang diteliti.

Data ini menunjukkan bahwa rasa memegang peranan penting. Lalu, bagaimana cara menjembatani antara kebutuhan gizi yang kompleks dengan selera makan anak yang sudah mulai "memilih"? Kuncinya adalah menemukan alternatif makanan atau minuman yang kaya nutrisi namun tetap enak di lidah mereka.

Alternatif Minuman Kaya DHA yang Disukai Anak

Salah satu pendekatan yang bisa dicoba adalah dengan menyajikan nutrisi dalam kemasan yang familiar dan disukai anak-anak. Champion, misalnya, menghadirkan minuman rasa cokelat yang diperkaya dengan DHA, dirancang khusus untuk anak usia 7–12 tahun.

Produk ini tidak hanya mengandung DHA, tetapi juga dilengkapi dengan 10 jenis vitamin serta cokelat malt yang memberikan pelepasan energi secara berkala. Kombinasi ini dihadirkan dalam rasa cokelat yang akrab, sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak yang sudah mulai selektif terhadap rasa.

Haruman Rustandi, Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, menekankan bahwa pemenuhan nutrisi anak seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi ibu dan anak.

"Setiap ibu punya cara sendiri untuk menunjukkan cintanya, dan salah satunya lewat apa yang mereka sajikan untuk keluarganya. Kami ingin Champion menjadi bagian dari perjalanan dan cerita itu, membantu para ibu menghadirkan pilihan yang membantu kebutuhan nutrisi anak, sekaligus tetap memiliki rasa yang enak dan dapat dinikmati oleh anak-anak," ujarnya.

Pola Makan Seimbang Tetap Kunci Utama

Meskipun DHA sangat penting, perlu diingat bahwa kebutuhan nutrisi anak tidak bisa hanya bertumpu pada satu jenis makanan atau minuman saja. Anak tetap membutuhkan pola makan beragam yang mencakup sumber protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, vitamin, mineral, serta cukup buah dan sayuran.

Ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan sarden merupakan sumber DHA alami terbaik. Namun, jika anak sulit mengonsumsinya, produk fortifikasi seperti susu atau minuman yang diperkaya DHA bisa menjadi solusi tambahan yang praktis.

Orang tua juga bisa mengombinasikan berbagai pendekatan, misalnya menyajikan ikan dengan olahan yang menarik atau melibatkan anak dalam proses memasak. Dengan begitu, kebutuhan nutrisi harian anak tetap terpenuhi tanpa harus berdebat di meja makan setiap hari.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: fimela.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top