Inflasi Agustus 2026 Tembus 0,21%, Harga Cabai hingga Emas Jadi Biang Kerok

Penulis: Vikri Alfandi  •  Selasa, 01 September 2026 | 12:25:32 WIB
Petugas menunjukkan perkembangan harga sejumlah komoditas pangan yang memengaruhi inflasi Agustus 2026.

KALIMANTAN BARAT — Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026. Secara year on year, inflasi tercatat 3,19%, sementara inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,86%.

"Pada Agustus 2026 terjadi peningkatan indeks harga konsumen dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus tahun 2026," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa (1/9).

Cabai dan Beras Jadi Pemicu Utama Inflasi Bulanan

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 0,57% dan andil 0,17%. Komoditas pangan pokok seperti cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing menyumbang andil inflasi 0,02%.

Adapun kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret keretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) turut menekan laju inflasi dengan andil masing-masing 0,01%. Beragamnya komoditas yang naik ini menunjukkan tekanan harga pangan masih menyebar, bukan hanya terjadi pada satu jenis bahan pokok.

Harga Emas Perhiasan Ikut Mendorong Inflasi

Di luar kelompok pangan, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 0,37% dengan andil 0,03%. Kenaikan ini hampir seluruhnya ditopang oleh harga emas perhiasan yang melonjak 0,75% dan menyumbang andil inflasi 0,02%.

Gerak harga emas yang terus menguat sepanjang tahun ini sejalan dengan tren kenaikan harga logam mulia di pasar global. Kondisi ini berimbas langsung pada harga perhiasan di dalam negeri karena bahan baku utama pembuatannya bergantung pada harga internasional.

Transportasi Justru Alami Deflasi

Bersamaan dengan inflasi di sektor pangan dan perhiasan, kelompok transportasi justru mencatat deflasi 0,50% dengan andil deflasi 0,06%. Penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor utama dengan andil deflasi 0,06%, disusul penurunan harga bensin yang menyumbang andil deflasi 0,03%.

Deflasi di sektor transportasi ini menjadi penyeimbang atas tekanan inflasi dari kelompok pangan dan perhiasan. Artinya, tanpa penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin, laju inflasi bulanan berpotensi lebih tinggi dari 0,21%.

Sebaran Inflasi: 27 Provinsi Mengalami Inflasi

Dari sisi wilayah, BPS mencatat 27 provinsi mengalami inflasi bulanan dan 11 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, masing-masing sebesar 0,81%.

Di sisi lain, deflasi terdalam tercatat di Papua Pegunungan sebesar 1,27%. Perbedaan laju inflasi antarwilayah ini mencerminkan disparitas pola konsumsi dan rantai distribusi pangan di berbagai daerah, terutama untuk komoditas cabai dan beras yang menjadi penyumbang utama inflasi nasional.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top