2.711 Titik Panas di Kalbar Berstatus Kepercayaan Menengah, Ketapang Catat 1.441 Hotspot Terbanyak

Penulis: Wisnu Wardana  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:46:02 WIB
Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio memantau 2.711 titik panas berstatus kepercayaan menengah di Kalimantan Barat.

PONTIANAK — Ribuan titik panas yang terpantau satelit ini terkonsentrasi di wilayah barat dan selatan Kalbar. Data Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio menunjukkan dari total temuan, 2.711 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 400 titik berstatus rendah, dan 272 titik masuk kategori kepercayaan tinggi.

BMKG menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang tidak selalu berarti kebakaran. Namun, keberadaannya menjadi sinyal awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau.

Melawi dan Sintang Tak Luput dari Pantauan Satelit

Distribusi titik panas menyebar hingga ke wilayah tengah dan utara provinsi. Melawi mencatat 233 titik, disusul Sintang 132 titik, dan Sanggau 123 titik. Mempawah terpantau 101 titik, sementara Sekadau 61 titik dan Kapuas Hulu 60 titik.

Pemantauan dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit polar. BMKG mengingatkan kondisi tutupan awan atau blank zone berpotensi menyebabkan titik panas di suatu wilayah tidak terdeteksi, sehingga angka sebenarnya di lapangan bisa lebih tinggi.

Mengapa Deteksi Titik Panas Krusial di Musim Kemarau?

Intensitas titik panas yang tinggi dalam satu hari menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah. Data ini biasanya menjadi dasar penerbitan status siaga karhutla serta pengerahan tim pemadam ke titik rawan.

Kabupaten Ketapang yang mencatat lonjakan signifikan selama periode pemantauan menjadi perhatian utama. Kawasan gambut yang luas di pesisir barat Kalbar memang rawan terbakar saat musim kemarau berkepanjangan.

Apa Langkah Selanjutnya untuk Mencegah Karhutla?

Koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam merespons temuan ini. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat sanksi pidana menanti pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Pihak berwenang di tingkat kabupaten biasanya segera menindaklanjuti data satelit ini dengan patroli darat. Deteksi dini berbasis satelit ini diharapkan mampu mempercepat respons sebelum api membesar dan menimbulkan kabut asap lintas batas.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: kalbarnews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top