Kebakaran Lahan di Melawi Meluas 20 Hari, Warga Nanga Kayan dan Sopan Tonak Desak Bantuan Mesin Robin

Penulis: Yoga Permadi  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:28:02 WIB
Warga menyaksikan kepulan asap tebal dari kebakaran lahan yang meluas di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

MELAWI — Kobaran api yang melahap lahan di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, kian meluas dan dikhawatirkan mendekati kawasan permukiman warga. Peristiwa yang telah berlangsung sekitar 20 hari ini tak hanya menghanguskan area perusahaan, tetapi juga merembet ke lahan milik masyarakat di dua desa berbeda.

Berdasarkan keterangan warga, titik api pertama kali muncul dari area yang berbatasan dengan lahan PT Rafi Kamajaya. Dari sana, api menjalar ke sejumlah lahan milik warga di Dusun Istana, RT Bajong, Desa Nanga Kayan, hingga menembus wilayah Desa Sopan Tonak, Kecamatan Belimbing. Luas lahan yang terbakar ditaksir mencapai ratusan hektare.

Warga: 20 Hari Padamkan Api Tanpa Bantuan Pompa Air

Selama hampir tiga pekan, masyarakat hanya mengandalkan gotong royong dengan peralatan seadanya untuk menjinakkan api. Palen, warga Bajong, mengaku kecewa karena tidak ada satu pun bantuan berupa mesin pompa air (robin) maupun personel pemadam yang tiba di lokasi sejak kejadian dimulai pada 5 Agustus 2026.

“Terpaksa masyarakat mengandalkan upaya gotong royong. Kejadian ini telah berlangsung kurang lebih 20 hari, dari tanggal 5 Agustus 2026 sampai sekarang tidak ada satu pun bantuan tenaga ataupun barang berupa robin yang datang,” ujarnya.

Palen menegaskan, warga membutuhkan dukungan peralatan seperti mesin robin, selang, serta personel pemadam agar upaya pemadaman bisa lebih efektif. Kondisi lahan gambut yang sulit dijangkau membuat api cepat menyebar dan sulit dipadamkan hanya dengan alat manual.

Dugaan Titik Api Berasal dari Lahan Perusahaan Sawit

Tono, warga RT Bajong, menduga api berasal dari area perusahaan PT Rafi Kamajaya sebelum akhirnya merembet ke kawasan milik masyarakat. Ia menyayangkan minimnya kerja sama dan respons dari pihak perusahaan dalam upaya penanganan kebakaran ini.

“Yang kami sesalkan juga upaya penanganan dan kerja sama dari perusahaan PT Rafi Kamajaya dengan masyarakat kurang. Apalagi pihak desa, kecamatan maupun BPBD tidak ada tim ataupun robin yang dapat digunakan oleh masyarakat,” katanya.

Hal senada diungkapkan Supandi, warga Desa Sopan Tonak. Ia menyebut titik api yang berasal dari area perusahaan itu kini terus bergerak menuju kawasan tempat tinggalnya. “Mulai titik api berasal dari area perusahaan PT Rafi Kamajaya yang ada di Desa Nanga Kayan hingga menuju ke arah Desa Sopan Tonak, Kecamatan Belimbing,” ungkapnya.

Asap Tebal Ganggu Aktivitas dan Kesehatan Warga

Selain ancaman meluasnya kobaran api, kabut asap yang ditimbulkan juga mulai mengganggu aktivitas harian masyarakat. Jarak pandang di sekitar lokasi terdampak menurun, sementara anak-anak dan lanjut usia menjadi kelompok yang paling dikhawatirkan mengalami gangguan pernapasan.

Warga berharap penanganan tidak hanya dilakukan ketika api telah meluas. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap dugaan titik awal kebakaran dan transparansi tanggung jawab pihak terkait apabila ditemukan pelanggaran dalam pengelolaan lahan.

Setidaknya terdapat tiga tuntutan utama masyarakat, yakni percepatan penanganan oleh BPBD, Manggala Agni dan pihak perusahaan; bantuan peralatan berupa mesin robin, selang serta personel pemadam; serta evaluasi terhadap dugaan titik awal kebakaran dan tanggung jawab pihak terkait apabila ditemukan pelanggaran.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak PT Rafi Kamajaya, BPBD Kabupaten Melawi maupun pemerintah kecamatan mengenai dugaan titik awal kebakaran, luas lahan terdampak, serta langkah penanganan yang telah dilakukan. Keterangan mengenai dugaan sumber api dalam berita ini merupakan pernyataan warga dan masih memerlukan verifikasi serta penjelasan resmi dari pihak-pihak terkait.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top