KALIMANTAN BARAT — Jakarta, CNBC Indonesia - Strategi pembiayaan utang pemerintah tahun depan menunjukkan pergeseran komposisi yang menarik. Berdasarkan Buku II Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 yang dirilis Selasa (18/8), total pembiayaan utang direncanakan mencapai Rp876,272 miliar. Dari jumlah tersebut, porsi pinjaman justru mengalami penurunan signifikan menjadi Rp96,3 triliun, dibandingkan outlook 2026 yang sebesar Rp131,6 triliun.
Artinya, pemerintah semakin mengandalkan pasar obligasi domestik dan global melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN) serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara) untuk memenuhi kebutuhan kas.
Namun, langkah ini juga berarti pemerintah harus bersaing lebih ketat dengan korporasi dalam memperebutkan likuiditas di pasar keuangan. Sentimen ini berpotensi mempengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar sekunder sepanjang tahun depan.
Ketiga, seimbang, yaitu menjaga portofolio utang pada titik optimal antara biaya murah dan risiko yang masih bisa ditoleransi. "Pembiayaan utang yang berasal dari SBN akan dipenuhi melalui penerbitan SUN dan SBSN/Sukuk Negara. Sementara itu, pinjaman Pemerintah terdiri dari pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri," tulis dokumen tersebut.
Namun, prinsip kehati-hatian (prudent) yang ditekankan pemerintah diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar. Pelaku pasar akan mencermati strategi lelang dan kalender penerbitan yang biasanya dirilis lebih detail oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dalam beberapa bulan mendatang.
Kepastian mengenai defisit anggaran dan target pertumbuhan ekonomi yang menjadi asumsi dasar makro dalam RAPBN 2027 akan menjadi penentu utama pergerakan pasar obligasi dan nilai tukar rupiah ke depan.