KALIMANTAN BARAT — Kasus ini bermula dari laporan pemilik Honda Accord yang kehilangan kendaraannya. Alih-alih hanya mengandalkan laporan polisi, pemilik menggunakan AirTag yang sebelumnya disembunyikan di dalam mobil. Perangkat seukuran koin ini memancarkan sinyal lokasi melalui jaringan perangkat Apple di sekitarnya, yang akhirnya menuntun aparat ke lokasi kendaraan curian tersebut.
Saat ditemukan, polisi mendapati nomor rangka dan nomor mesin pada mobil telah diubah atau diganti dengan nomor dari kendaraan lain yang identik. Praktik inilah yang dikenal sebagai VIN swap, sebuah metode untuk mengelabui pemeriksaan dan membuat kendaraan curian tampak legal di mata hukum.
VIN swap bukan sekadar mengganti plat nomor. Pelaku biasanya mencari kendaraan sejenis yang pernah mengalami kecelakaan berat atau terbengkalai, lalu menggunakan data dokumen kendaraan tersebut untuk "menyulap" mobil curian. Dokumen seperti BPKB dan STNK yang asli namun untuk kendaraan berbeda, menjadi kunci utama penipuan ini.
Pembeli kendaraan bekas menjadi korban paling rentan. Mereka kerap tidak menyadari bahwa mobil yang dibeli memiliki identitas ganda. Pemeriksaan fisik yang tidak teliti dan ketergantungan pada dokumen cetak tanpa verifikasi digital memudahkan pelaku melempar mobil curian ke pasar.
AirTag bekerja dengan memanfaatkan jaringan "Find My" milik Apple. Setiap perangkat Apple di sekitar AirTag akan mengirimkan lokasinya secara anonim ke pemilik. Dalam kasus ini, teknologi tersebut terbukti efektif mempersempit area pencarian polisi.
Namun, perangkat ini bukanlah solusi keamanan yang sempurna. Pencuri yang paham teknologi dapat menemukan dan menonaktifkan AirTag dengan memutar speaker internalnya. Fitur anti-stalking Apple juga akan memberi notifikasi ke iPhone di sekitarnya jika ada AirTag asing yang bergerak bersamanya, sebuah celah yang bisa dimanfaatkan pelaku untuk membuang pelacak sebelum kabur.
Kasus ini menyoroti kelemahan dalam proses verifikasi kendaraan bermotor, terutama di sektor penjualan bekas. Pemeriksaan yang hanya mengandalkan kesesuaian angka di dokumen tanpa pengecekan mendalam pada struktur bodi, seperti pilar dan area pengelasan, bisa lolos dari pengawasan. Pelaku biasanya merapikan bekas pengelasan dan pengecatan ulang untuk menyamarkan bekas perubahan nomor rangka.
Kepolisian pun mendorong pembeli untuk melakukan cek fisik di Samsat atau memanfaatkan aplikasi resmi untuk memverifikasi keaslian nomor rangka dan nomor mesin. Membeli kendaraan bekas dari dealer terpercaya dengan garansi mesin dan riwayat servis jelas tetap menjadi langkah paling aman untuk menghindari jebakan VIN swap.