KUBU RAYA — Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito bersama jajaran Pejabat Utama (PJU) Kodam XII/Tanjungpura turun langsung mengikuti Salat Istisqo di Lapangan Tidayu, Makodam XII/Tpr, Jumat (31/7/2026). Ibadah yang dihadiri ratusan prajurit dan PNS ini dipimpin Ustadz Mas'udi Syamsudin, pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur'an Wadda'wah Kubu Raya.
Salat Istisqo merupakan rangkaian dari upaya penanganan karhutla yang tengah berlangsung. Pangdam menegaskan bahwa upaya pemadaman di lapangan harus diimbangi dengan kekuatan doa.
"Penanganan karhutla membutuhkan ikhtiar bersama, baik secara fisik di lapangan maupun secara spiritual. Selain prajurit terus berjuang memadamkan titik api bersama instansi terkait, hari ini kita berserah diri memohon bantuan Yang Maha Kuasa agar mengaruniakan hujan," ujar Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa operasi darat yang dilakukan personel gabungan tidak berjalan sendiri. Prajurit yang dikerahkan ke titik-titik rawan api tetap menjalankan tugas teknis, sementara doa bersama menjadi penguat moral satuan.
Pelaksanaan ibadah memohon hujan ini tidak terbatas pada prajurit beragama Islam. Pangdam menyebutkan prajurit dengan keyakinan lain turut melaksanakan doa sesuai tata cara dan kepercayaan masing-masing.
Hal ini menunjukkan pendekatan spiritual yang inklusif di lingkungan satuan. Seluruh personel diajak terlibat dalam ikhtiar yang sama, meski dengan cara berbeda, untuk satu tujuan: hujan segera turun di Kalimantan Barat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Mas'udi Syamsudin mengingatkan jamaah tentang posisi manusia di hadapan Allah SWT. Kemarau panjang dan karhutla disebut sebagai ujian yang menuntut introspeksi diri.
"Kita ditakdirkan untuk bersama-sama sujud dan menghadap Allah, mengakui bahwa diri kita adalah hamba yang tak berdaya apa-apa, hamba yang sangat butuh kepada Allah SWT. Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa doa kalian akan diterima," pesannya.
Ustadz Mas'udi menambahkan bahwa Allah sangat menyambut hamba-Nya yang bersujud, bertobat, dan merengek memohon ampunan. Ia menekankan pentingnya mengikis kesombongan di tengah ujian musibah yang sedang dihadapi.
Kegiatan ini menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla di Kalimantan Barat tidak bisa dilakukan sendiri oleh TNI. Dibutuhkan sinergi dengan instansi terkait seperti BPBD, Manggala Agni, polisi, serta masyarakat di tingkat desa.
Doa bersama ini diharapkan menjadi pengingat bahwa bencana asap yang melanda juga membutuhkan kepedulian semua elemen. Upaya pencegahan sejak dini, seperti tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tetap menjadi kunci utama agar titik api tidak meluas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi lanjutan mengenai jumlah titik panas terkini di Kalimantan Barat. Namun, langkah Kodam XII/Tanjungpura ini setidaknya memperlihatkan keseriusan dalam menangani darurat karhutla dari berbagai sisi.