KALIMANTAN BARAT — Xiaomi Poco X8 Pro datang di awal 2026 dengan klaim sebagai "raja baru" HP kelas menengah. Baterai 6.500 mAh dan fast charging 100W memang angka yang bikin melongo, apalagi di rentang harga Rp 4-6 jutaan. Tapi setelah dipakai sebagai daily driver selama beberapa hari, ada yang langsung terasa dan ada yang butuh waktu lebih lama untuk benar-benar diuji.
Poco X8 Pro pakai bingkai baja tahan karat—material yang jarang ditemui di kelas menengah. Sudutnya membulat, jadi pas di genggaman meskipun bodinya cukup lebar. Sertifikasi IP68 juga jadi nilai plus: tahan debu dan air hingga kedalaman tertentu. Ini langka di harga segini.
Tapi bobotnya terasa. Dengan baterai sebesar itu, ponsel ini jelas bukan yang paling ringan di kelasnya. Tombol daya dan volume terpisah di sisi kanan, port USB-C di bawah, dan speaker menghadap ke bawah. Sayangnya, posisi speaker bawah gampang ketutup tangan pas main game—keluhan klasik yang masih belum diatasi.
Panel AMOLED 6,59 inci resolusi 1,5K ini beneran memanjakan mata. Mendukung HDR10+ dan Dolby Vision, jadi nonton Netflix atau YouTube HDR terasa kontras dan warna hidup. Kecepatan refresh 120 Hz bikin scrolling terasa mulus. Kecerahan puncak 2.000 nits—cukup terang dipakai di bawah sinar matahari langsung.
Fitur Wet Touch 2.0 juga bekerja dengan baik. Layar tetap responsif meski jari basah atau berkeringat, cocok buat kamu yang sering pakai HP sambil olahraga atau kehujanan.
Catatan penting: layar ini belum mendukung penurunan refresh rate otomatis hingga 24 Hz saat menonton film. Artinya, saat nonton video 24 atau 30 fps, layar tetap di 60 atau 120 Hz—boros baterai untuk skenario yang seharusnya hemat. Ini bukan masalah besar, tapi buat yang peduli efisiensi, patut dipertimbangkan.
Bahan artikel tidak menyebut chipset spesifik yang digunakan Poco X8 Pro. Yang jelas, ponsel ini dirancang untuk gaming dan multitasking. Dari pengalaman singkat, navigasi antarmuka terasa responsif, aplikasi berat seperti editing foto ringan, dan game seperti Mobile Legends berjalan lancar di setting tinggi.
Tapi tanpa data chipset dan benchmark, klaim performa masih perlu diuji lebih lanjut. Saya sarankan menunggu review penuh dari sumber tepercaya seperti GSMArena atau reviewer lokal sebelum memutuskan beli khusus untuk gaming berat.
Ini adalah fitur bintangnya. Dengan baterai 6.500 mAh, Poco X8 Pro bisa bertahan lebih dari sehari penuh untuk pemakaian normal—social media, nonton video, browsing, dan sesekali main game. Pemakaian berat pun masih bisa tembus 8-10 jam screen-on time. Buat pengguna yang sering bepergian atau lupa ngecas, ini jelas nilai jual utama.
Fast charging 100W juga cepat. Dari 0% ke 100% diperkirakan sekitar 30-40 menit. Tapi perlu diingat: charger 100W mungkin tidak included di dalam kotak untuk pasar Indonesia—cek isi dus sebelum membeli. Kalau tidak ada, kamu harus beli charger terpisah yang mendukung 100W.
Poco X8 Pro jelas bukan ponsel untuk semua orang. Ponsel ini paling cocok buat kamu yang prioritas utamanya daya tahan baterai dan kecepatan charging. Kalau kamu sering di luar rumah, main game, atau nonton video seharian, kombinasi 6.500 mAh + 100W bikin kamu jarang khawatir kehabisan daya.
Tapi kalau kamu lebih mementingkan performa gaming maksimal atau fitur layar yang efisien, mungkin perlu menunggu review lebih detail atau lihat kompetitor lain di kelas yang sama. Harga resmi belum diumumkan, tapi estimasi di Rp 4-6 jutaan—kompetitor langsung seperti Realme 14 Pro atau Samsung Galaxy A56 juga patut dipertimbangkan.
Kesimpulan: Poco X8 Pro adalah pilihan menarik di kelas menengah dengan baterai dan charging yang luar biasa. Tapi bukan tanpa kompromi—bobot, posisi speaker, dan ketiadaan fitur refresh rate adaptif jadi catatan. Kalau baterai adalah prioritas utama, ponsel ini layak masuk daftar beli.