KALIMANTAN BARAT — Keberhasilan pengeboran sumur KRG-042 di Lapangan Limau menjadi angin segar bagi industri hulu migas Indonesia. Sumur yang dikelola PT Pertamina EP Asset 2 ini mengalirkan minyak hingga 777 barel per hari (bph). Angka tersebut tergolong signifikan untuk sumur pengembangan di lapangan yang sudah berproduksi puluhan tahun.
Pengeboran sumur KRG-042 merupakan bagian dari program workover dan pengeboran pengembangan (development drilling) Pertamina. Langkah ini bertujuan memaksimalkan potensi cadangan minyak yang belum tergarap di Lapangan Limau. Keberhasilan ini membuktikan bahwa lapangan tua masih menyimpan potensi besar dengan teknologi pengeboran yang tepat.
SKK Migas mencatat, produksi 777 bph dari satu sumur merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Pasalnya, banyak sumur di Indonesia yang produksinya terus menurun secara alami. Temuan ini sekaligus membuktikan bahwa pengeboran baru di wilayah kerja lama (brownfield) masih bisa memberikan hasil yang kompetitif.
Tambahan produksi dari sumur KRG-042 berkontribusi langsung terhadap target lifting minyak nasional. Setiap tetes minyak yang berhasil diproduksi dari dalam negeri berarti mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Dalam jangka panjang, keberhasilan ini menjaga ketahanan energi dan menghemat devisa negara.
Bagi masyarakat sekitar, aktivitas pengeboran yang sukses berdampak pada peningkatan ekonomi lokal. Mulai dari lapangan kerja di sektor jasa penunjang migas hingga efek berganda (multiplier effect) dari operasional perusahaan di daerah.
Keberhasilan di Lapangan Limau menjadi bagian dari strategi besar Pertamina meningkatkan produksi hulu migas. Melalui PHR Zone 4, perusahaan terus melakukan pengeboran sumur baru dan optimalisasi sumur eksisting. Langkah ini sejalan dengan arahan SKK Migas mengejar target produksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030.
Pertamina EP Asset 2 berkomitmen mengeksplorasi potensi di wilayah kerja Sumatera Selatan. Dengan temuan di Struktur Karangan, terbuka peluang pengeboran lanjutan di area prospek lainnya di sekitar Lapangan Limau. Keberhasilan ini membuktikan bahwa lapangan minyak tua di Indonesia masih menyimpan kejutan.