KALIMANTAN BARAT — Pelatihan yang digelar di SMKN 1 Sangatta Utara, SMKN 2 Sangatta Utara, dan SMK Muhammadiyah 1 Sangatta Utara itu menghadirkan tim Safety, Health, and Environment (SHE) serta Corporate Social Responsibility (CSR) PAMA sebagai pemateri. Kegiatan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung mengidentifikasi potensi bahaya dan melakukan penilaian risiko di lingkungan sekolah.
“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa keselamatan bukan sekadar aturan, melainkan budaya yang harus diterapkan sejak dini,” ujar perwakilan CSR PAMA Area Kutai Timur dalam keterangan resmi, Jumat (10/7).
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko merupakan kompetensi fundamental yang wajib dikuasai pekerja di sektor pertambangan dan industri berat. PAMA menilai, membekali siswa vokasi dengan kemampuan ini sejak dini akan membuat mereka lebih siap saat memasuki dunia kerja yang menuntut penerapan K3 secara konsisten.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali kemampuan untuk mengenali potensi bahaya, menganalisis tingkat risiko, hingga menentukan langkah pengendalian yang tepat. Metode interaktif seperti diskusi kelompok dan simulasi lapangan digunakan agar materi mudah diserap.
Program PAMA Safe School mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Selain memperkuat pemahaman K3LH, pelatihan ini dinilai mampu membentuk karakter siswa yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap keselamatan diri sendiri serta orang lain.
Ke depan, PAMA berharap para kader yang telah mengikuti pelatihan bisa menjadi pelopor budaya keselamatan di lingkungan sekolah. Mereka diharapkan mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip identifikasi bahaya dan penilaian risiko dalam setiap aktivitas sehari-hari.
“Kami berharap para guru dan siswa yang mengikuti pelatihan ini dapat menjadi agen perubahan serta menginspirasi terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan peduli terhadap risiko di setiap aktivitas,” pungkas perwakilan CSR PAMA.