KALIMANTAN BARAT — Pencapaian ini menjadi bukti bahwa pelaku usaha kecil dan menengah mampu menjadi pemasok di industri hulu migas nasional. PT Batanghari Sinar Energi mengelola minyak dari sumur-sumur yang dioperasikan masyarakat di sekitar wilayah kerjanya.
Dalam keterangannya, Djoko Siswanto menyebutkan bahwa pengiriman perdana ini menunjukkan potensi besar sektor UMKM di rantai pasok energi. Minyak mentah yang dikumpulkan dari sumur-sumur rakyat itu telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan Pertamina EP.
“Ini bukti bahwa UMKM mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri hulu migas nasional,” ujar Djoko. Ia menambahkan, kolaborasi semacam ini perlu terus didorong untuk meningkatkan produksi minyak nasional.
Keberhasilan ini membuka peluang bagi lebih banyak UMKM di sektor hulu migas. Pasalnya, selama ini sumur-sumur rakyat kerap terkendala akses pemasaran dan infrastruktur penyimpanan. Kini, dengan adanya skema kemitraan seperti ini, masyarakat pemilik sumur bisa mendapatkan harga yang lebih pasti.
Bagi Pertamina EP, pasokan dari UMKM seperti PT Batanghari Sinar Energi membantu mengamankan target produksi di wilayah Jambi. Volume 1.050 barel memang masih kecil dibandingkan produksi sumur utama, tetapi secara akumulasi bisa signifikan jika diikuti oleh banyak UMKM serupa.
Djoko berharap pengiriman ini menjadi model bisnis yang bisa direplikasi di daerah lain. SKK Migas, kata dia, akan memfasilitasi proses perizinan dan standarisasi agar lebih banyak UMKM yang bisa berpartisipasi. “Kami akan terus dampingi agar kualitas dan volume pengiriman bisa ditingkatkan,” pungkasnya.
Pengiriman berikutnya dari PT Batanghari Sinar Energi direncanakan dalam waktu dekat. Jika pola ini berjalan mulus, kontribusi UMKM terhadap produksi minyak nasional bisa meningkat secara bertahap.