PONTIANAK — Edukasi soal pubertas disampaikan lewat dialog yang menyasar Generasi Z, kelompok yang paling rentan mengalami kebingungan saat tubuh dan emosi berubah drastis. Diva Azhari dan Laza Dalvi, dua relawan muda PKBI Kalimantan Barat, dihadirkan sebagai narasumber dalam program Jaga Malam Ruang Obrolan Pro 2 (RONDA) RRI Pro 2 Pontianak pada Kamis, 24 September 2026.
Keduanya membahas persoalan yang lazim dihadapi remaja, mulai dari perubahan bentuk tubuh, munculnya jerawat, hingga ketidakstabilan emosi. Laza menyebut perubahan bentuk tubuh sebagai indikasi pubertas paling awal dan mencolok.
Jakun hingga Menstruasi Jadi Tanda Awal Pubertas
Pada laki-laki, pubertas ditandai dengan munculnya jakun dan suara yang memberat. Pada perempuan, tanda yang muncul antara lain menstruasi dan perubahan hormon yang memicu jerawat.
Jerawat akibat fluktuasi hormon kerap jadi sumber insecurity terbesar bagi remaja. Lingkungan sosial yang gemar mencibir atau melontarkan komentar negatif memperparah kondisi mental mereka.
Diva menyarankan remaja tidak memencet komedo atau merawat wajah sembarangan. Penanganan jerawat sebaiknya diserahkan kepada tenaga profesional atau dokter ahli.
Mood Swing dan PMS Butuh Lingkungan yang Lebih Peka
Dari sisi psikologis, masa pubertas identik dengan ketidakstabilan emosi atau mood swing. Remaja rentan merasa sedih, cemas, takut, hingga mudah marah tanpa alasan yang jelas.
Pada perempuan, kondisi itu sering memuncak saat memasuki fase sindrom pramenstruasi (PMS) yang memicu nyeri fisik. Diva menekankan pentingnya pengendalian diri agar remaja tidak menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan amarah.
"Sebenarnya kita cuma perlu belajar menerima diri terhadap perubahan-perubahan tersebut. Oh, ini wajar, ini masih bisa diatasi. Hal-hal yang masih bisa diatasi sebenarnya kita cuma perlu belajar menerima sih. Jangan lupa self-love, guys," ujar Diva memberikan pesan penyemangat bagi para pendengar.
Kurangi Junk Food, Tidur Minimal 8 Jam Sehari
Perbaikan kualitas hidup dinilai sangat memengaruhi stabilitas hormon selama masa pubertas. Laza dan Diva mengimbau remaja mengurangi konsumsi makanan cepat saji (junk food) dan memperbanyak asupan buah serta sayur.
Durasi tidur yang cukup, minimal 8 jam sehari, juga ditekankan untuk mencegah timbulnya stres. Dua hal itu disebut sebagai langkah sederhana yang berdampak langsung pada kestabilan hormon.
Ruang Aman bagi Remaja yang Butuh Teman Cerita
PKBI Kalimantan Barat membuka ruang aman bagi remaja yang merasa kesulitan menghadapi masa pubernya sendirian. Layanan konsultasi gratis tersedia lewat media sosial resmi PKBI Kalbar.
Remaja yang membutuhkan teman cerita, bimbingan, maupun edukasi seputar reproduksi dan psikologi dipersilakan mengakses layanan tersebut. Pendekatan ini dinilai lebih mudah dijangkau kelompok muda dibandingkan datang langsung ke fasilitas layanan.