KALIMANTAN BARAT — Investigasi menemukan kargo tersebut dicatat dengan kode bea cukai yang biasanya dipakai untuk serat sintetis sipil. Kode itu menyamarkan penggunaan militer sebenarnya dari material tersebut.
Alabuga-Volokno dan Produksi Militer Rusia
Alabuga-Volokno memproduksi 39 jenis produk serat karbon terpisah untuk penerbangan, teknik roket, drone, pembuatan kapal, dan pelindung armor. Perusahaan ini nyaris tidak merilis produk sipil.
Sekitar 89% outputnya diproyeksikan melayani perusahaan pertahanan Rusia pada 2030. Angka itu menunjukkan orientasi produksi yang sepenuhnya militer.
Kode Bea Cukai yang Disamarkan
Pakar senjata David Albright menilai penggunaan kode pengiriman yang benar akan menandai kiriman itu sebagai item dual-use, yakni material dengan aplikasi sipil dan pertahanan sekaligus. Albright memperkirakan volume yang dikirim cukup memasok material untuk sebanyak 1.300 drone serang jarak jauh.
Ukrainian Security and Cooperation Centre melacak setidaknya delapan tender untuk pengiriman serupa antara kedua perusahaan sejak 2022. Lembaga itu menilai sanksi telah membuat Beijing menjadi hampir satu-satunya pemasok material komposit untuk manufaktur senjata Rusia.
Analisis Kiel Institute menemukan China memasok lebih dari 60% komponen yang menopang produksi militer Rusia. Mantan wakil menteri luar negeri AS Kurt Campbell menyebut puluhan perusahaan China kini menjaga hubungan erat dengan sektor pertahanan Moskow sebagai imbalan transfer teknologi militer.
Bantahan Beijing dan Moskow
Kedutaan Besar China di Washington menolak tuduhan tersebut. Mereka menyatakan negaranya mengontrol ketat barang dual-use dan tidak pernah mempersenjatai pihak mana pun dalam konflik.
Rosatom juga membantah pelanggaran terkait pengajuan bea cukai anak perusahaannya.
"Rosatom dan perusahaan-perusahaannya beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap hukum dan persyaratan regulasi yang berlaku," kata juru bicara perusahaan negara Rusia itu. "Setiap klaim yang menyatakan sebaliknya adalah salah dan menunjukkan kurangnya pemahaman tentang cara kerja otoritas bea cukai Rusia."
Mantan pejabat AS tetap skeptis terhadap bantahan Beijing. Mereka berargumen perusahaan milik negara beroperasi di bawah pengawasan pemerintah yang ketat.
"Mereka melakukannya dengan mengetahui bahwa pemerintah China tidak akan menindak mereka untuk itu," kata Dennis Wilder, mantan deputy assistant director CIA untuk Asia Timur dan Pasifik. "Gagasan bahwa perusahaan milik negara China bisa menyembunyikan sesuatu dari pemerintah China sama sekali tidak masuk akal."
Posisi Xi Jinping dan Tekanan Ukraina
Pemimpin China Xi Jinping konsisten menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina.
"Kami tidak akan menambah bahan bakar ke api, dan yang terpenting kami tidak akan mengambil keuntungan," kata Xi pada 2023.
Meski ada bantahan dari Beijing dan Moskow, Ukraina menilai dukungan China membuat industri pertahanan Rusia terus memperluas produksi drone dan komponen rudal. Kyiv memperingatkan pengiriman yang berlanjut hanya memperkuat hubungan antara dua rival strategis Barat tersebut, memperdalam kerja sama lintas sektor industri mereka.
Ukraina menyerukan sanksi sekunder, kontrol ekspor yang lebih ketat, tekanan finansial pada perantara, dan koordinasi lebih erat dengan mitra Asia untuk melawan jaringan ini.
Jelang Pertemuan Trump-Xi
Pengungkapan ini muncul beberapa pekan sebelum Donald Trump dijadwalkan bertemu Xi Jinping di Washington. Kedua pemerintah kemungkinan lebih memilih fokus pada perdagangan ketimbang penegakan sanksi dalam pertemuan tersebut.