PONTIANAK — Kabar duka itu datang menjelang salat Zuhur. Nazirin bin Abdulhamid, sahabat yang dikenal santun, tegas, dan piawai berorganisasi, telah berpulang ke haribaan-Nya. Pria yang akrab disapa Bang Rin itu mengembuskan napas terakhir pada Senin, 7 September, pukul 12.34, bertepatan dengan berkumandangnya azan Zuhur.
Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatan Nazirin memang terus menurun akibat strok yang cukup lama diderita. Beberapa hari sebelum kepergiannya, sejumlah kerabat berencana menjenguk, namun takdir berkata lain. Mereka akhirnya datang bukan untuk menjenguk, melainkan melayat dan mengantarkan kepergian seorang sahabat.
Jejak Aktivisme Sejak Era Reformasi
Nazirin dikenal sebagai sosok yang gesit dan energik. Bekal pendidikan hukum membuatnya piawai mengurai pasal serta aturan, meski tidak menekuni profesi sebagai praktisi hukum. Pada masa gerakan Reformasi 1998, ia dikenal sebagai aktivis yang lihai berorasi di lapangan.
Kiprahnya di dunia pers juga tak bisa dilepaskan. Nazirin pernah menjadi staf redaksi Tabloid Mimbar Untan yang secara khusus meliput kegiatan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura. Ia juga berhimpun di Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Pontianak (Forkumakap), organisasi mahasiswa asal Kabupaten Pontianak—kini Kabupaten Mempawah.
Reportase Kritis yang Terbentur Sensor Orde Baru
Satu kenangan yang membekas terjadi ketika Nazirin mengikuti jalannya persidangan di Pengadilan Negeri untuk pemberitaan Mimbar Untan. Ia menulis laporan yang tajam dan kritis, memperlihatkan ketelitiannya dalam memahami persoalan hukum sekaligus keberaniannya menyampaikan kritik.
Sayangnya, reportase tersebut tidak dapat diterbitkan. Saat itu, sensor terhadap pers pada masa Orde Baru masih sangat kuat.
Karier di KPU Kalbar dan Warisan untuk Demokrasi
Kecakapannya berorganisasi kemudian terlihat ketika Nazirin menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Barat. Berbekal pengalaman sebagai aktivis lapangan, ia lincah mengelola penyelenggaraan pemilu di Kalbar.
Nazirin berasal dari Segedong. Kedekatannya dengan sejumlah tokoh terjalin lama, termasuk dengan Muda Mahendrawan dan Heru Suwono yang merupakan teman seangkatan kuliah istrinya.
Kini, namanya tinggal dalam kenangan, bersama jejak pengabdian, amal kebaikan, dan ibadahnya. "Beristirahatlah dengan lapang dan tenang, Bang Rin. Semoga sakit yang pernah diderita menjadi penggugur kekhilafan dan menambah pahala dalam perjalanan menuju jannah-Nya," demikian doa yang disampaikan rekan seperjuangannya.