KALIMANTAN BARAT — Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan dinamika pasar modal belakangan ini belum kondusif bagi korporasi untuk memperoleh penetapan harga saham perdana yang optimal. Keputusan menunda IPO diambil perusahaan untuk menghindari risiko rendahnya serapan investor. Target perolehan dana segar pun diharapkan bisa tercapai maksimal.
"Pelaksanaan IPO memang sangat bergantung pada kondisi pasar. Saat ini ada beberapa perusahaan yang menunda IPO karena kondisi pasar dirasa belum bisa memberikan harga yang optimal," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dinamika Pasar dan Strategi Penentuan Waktu
Fluktuasi indeks dalam beberapa pekan terakhir mendorong sejumlah calon emiten mengatur ulang jadwal pencatatan saham. Langkah ini lazim ditempuh korporasi untuk menunggu momentum pasar membaik. Valuasi yang ditawarkan ke publik pun diharapkan lebih menarik.
Penundaan ini menjadi sinyal bahwa likuiditas dan sentimen investor berada dalam fase wait and see. Momen penerbitan saham perdana sangat krusial bagi perusahaan karena menentukan besaran dana yang berhasil dihimpun. Persepsi pasar terhadap prospek bisnis ke depan juga turut ditentukan pada tahap ini.
Bursa Tak Mengejar Kuantitas, Fokus ke Kualitas
Menanggapi situasi ini, BEI memastikan kebijakan saat ini tidak sekadar mengejar target jumlah perusahaan tercatat baru. Otoritas bursa justru memperketat proses penelaahan profil fundamental calon emiten. Langkah ini diambil untuk menjaga kredibilitas instrumen investasi yang ditawarkan kepada publik.
Penguatan seleksi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memastikan setiap saham yang melantai di bursa memiliki fundamental yang solid. Dengan demikian, kepercayaan investor terhadap kualitas perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Keputusan BEI untuk tidak memaksakan target kuantitas di saat pasar sedang lesu merupakan langkah prudent. Investor pun diharapkan lebih selektif dan tetap mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.