Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melaporkan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun menjadi 28 titik per Sabtu (23/8), dengan konsentrasi terbanyak di Ketapang dan Melawi. Namun, ia mengingatkan bahwa berkurangnya hotspot tidak otomatis menghilangkan asap, karena karakteristik lahan gambut memungkinkan pembakaran tidak sempurna yang tetap menghasilkan kabut asap tebal.
PONTIANAK — Penanganan karhutla di Kalimantan Barat belum bisa berakhir meski jumlah titik panas tercatat menurun. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per 23 Agustus pukul 23.59 WIB, terdeteksi 28 hotspot di provinsi ini, jauh lebih rendah dibanding pekan-pekan sebelumnya saat puncak musim kemarau.
Menhut Raja Juli Antoni mengungkapkan, dari total 28 titik tersebut, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan temuan terbanyak mencapai 16 hotspot. Disusul Kabupaten Melawi dengan 11 titik, dan satu titik lainnya berada di Kabupaten Kubu Raya.
Mengapa Hotspot Turun tapi Asap Masih Tebal?
Saat meninjau lokasi karhutla di Rasau Jaya Satu, Kubu Raya, Senin, Menteri Kehutanan mendapati kondisi yang kontras. Di permukaan tanah, api tidak lagi terlihat menyala, namun kepulan asap masih terus membubung ke udara.
Fenomena ini, menurut Raja Juli, berkaitan langsung dengan jenis tanah di Kalimantan Barat yang didominasi gambut. Proses pembakaran di lahan gambut berlangsung tidak sempurna dan menjalar di bawah permukaan, sehingga menghasilkan emisi asap yang jauh lebih banyak dibandingkan pembakaran di tanah mineral.
“Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral,” ujarnya di hadapan jajaran TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni yang mendampingi peninjauan tersebut.
Konsentrasi Karhutla Bergeser ke Sumatera
Meski kondisi di Kalbar berangsur membaik, data nasional justru menunjukkan pergeseran konsentrasi kebakaran. Pada periode yang sama, Sumatera Selatan mencatatkan hotspot tertinggi secara nasional dengan 127 titik, disusul Riau dengan 54 titik, dan Jambi dengan 47 titik.
Dinamika ini menegaskan bahwa pengendalian karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Menhut menekankan perlunya pemantauan berkelanjutan karena perubahan kondisi di lapangan sangat cepat dan sulit diprediksi. “Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi,” katanya.
Kolaborasi Penanganan dan Langkah Lanjutan
Penurunan jumlah hotspot di Kalbar disebut sebagai hasil kerja kolektif berbagai instansi. Operasi pemadaman melibatkan personel TNI, Polri, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BPBD, BNPB, serta masyarakat peduli api yang tersebar di titik-titik rawan.
Gubernur Kalbar Ria Norsan turut hadir dalam peninjauan tersebut untuk memastikan koordinasi lintas sektor berjalan efektif. Pemerintah daerah diharapkan terus menggencarkan patroli terpadu, terutama di dua kabupaten dengan temuan hotspot terbanyak, Ketapang dan Melawi, guna mencegah meluasnya kebakaran sebelum musim hujan tiba.