Pencarian

Film “Di Balik Ilusi Tembakau” Diputar di Pontianak, AJI Buka Ruang Diskusi soal Dampak Rokok hingga Beban Ekonomi Rp900 Ribu per Bulan

Kamis, 04 Juni 2026 • 00:05:01 WIB
Film “Di Balik Ilusi Tembakau” Diputar di Pontianak, AJI Buka Ruang Diskusi soal Dampak Rokok hingga Beban Ekonomi Rp900 Ribu per Bulan
Pemutaran film “Di Balik Ilusi Tembakau” di Pontianak dihadiri oleh jurnalis, akademisi, dan perangkat daerah.

PONTIANAK — Sebanyak 40 peserta dari kalangan jurnalis, akademisi, dan perangkat daerah menghadiri pemutaran film dokumenter “Di Balik Ilusi Tembakau” yang digelar AJI Jakarta bersama AJI Pontianak. Kegiatan berlangsung di sebuah aula di pusat Kota Pontianak, Kamis (4/6/2026).

Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, menegaskan forum ini bukan untuk mengarahkan peserta ke satu pandangan tertentu. “Justru kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang terbuka, kritis, dan berbasis fakta,” ujarnya.

Rokok Habiskan Rp900 Ribu per Bulan dari Kantong Keluarga Miskin

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, membeberkan data yang mengejutkan. Menurutnya, konsumsi rokok pada rumah tangga berpenghasilan rendah mampu menyedot hingga Rp900 ribu per bulan. Angka itu jauh lebih besar ketimbang kontribusi pajak rokok terhadap pembangunan daerah.

“Pajak rokok itu hanya Rp20 miliar saja, kecil. Jadi sumbangan untuk pembangunan juga tidak terlalu signifikan,” ungkap Saptiko dalam sesi diskusi.

Perda Bukan Larangan Merokok, tapi Lindungi Non-Perokok

Saptiko juga menjelaskan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Ia menegaskan regulasi itu tidak dimaksudkan melarang masyarakat merokok. “Perda ini bukan untuk melarang orang merokok, tetapi mengatur agar asap rokok hanya untuk yang merokok. Jadi yang tidak merokok tidak ikut menghisap asapnya,” jelasnya.

Varian Rasa Buah: Strategi Industri Tembakau Jaring Anak Muda

Penulis naskah film, Ambar Arum, menyoroti strategi pemasaran industri rokok yang kini menyasar generasi muda lewat produk bervarian rasa buah. Menurutnya, kemasan colorful dan rasa manis membuat rokok tampak seperti permen di mata anak-anak.

“Rokok dengan semua isu ini diwujudkan dalam manusia tuh bahasanya kalau anak muda zaman sekarang ‘red flag banget’,” tegas Ambar.

Denormalisasi Merokok: dari Kebiasaan Biasa Jadi Masalah Publik

Tubagus Haryo Karbiyanto dari Komite Nasional Pengendalian Tembakau menyebut Indonesia perlu melakukan denormalisasi terhadap kebiasaan merokok yang selama ini dianggap lumrah. “Ilusi tembakau itu bekerja saat dampak kesehatan, beban ekonomi, dan manipulasi industri tampak seperti hal biasa,” katanya.

Ia mengingatkan agar kebijakan publik tidak dipengaruhi kepentingan industri tembakau.

Biaya Sosial Lebih Besar dari Keuntungan Ekonomi

Akademisi Universitas Tanjungpura, Erni Panca Kurniasih, menilai kontribusi industri tembakau harus dihitung secara utuh. “Faktanya menunjukkan bahwa ternyata biaya sosial dan biaya kesehatan yang dikeluarkan melebihi dari keuntungan itu,” paparnya.

Ia mendorong pemerintah mempertimbangkan diversifikasi produk turunan tembakau yang bernilai tambah lebih besar, seperti untuk kebutuhan kesehatan atau kecantikan.

Film Ini Makin Memantapkan Saya Berhenti Merokok

Salah satu peserta, Jimmy, mengaku sedang dalam proses berhenti merokok. “Setelah nonton film ini, memang semakin memantapkan diri saya untuk meninggalkan kebiasaan itu,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal bagi diskusi lebih lanjut di tingkat daerah terkait pengendalian tembakau di Kalimantan Barat.

Bagikan
Sumber: suarakalbar.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks